Di Tengah Semangat Anak Negeri, Catatan Kecil untuk Profesionalisme O2SN Jatisari
Pendidikan    Kamis 09 April 2026    15:24:29 WIBKARAWANG - Semangat sportivitas dan kreativitas anak-anak sekolah dasar menyatu di lapangan bola Desa Pacing, Kecamatan Jatisari, Kamis (9/4/2026). Ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat kecamatan resmi dibuka di SDN Pacing 1, diikuti perwakilan dari 32 sekolah dasar se-Jatisari.
Sejak pagi, suasana tampak semarak. Sorak sorai peserta dan dukungan orang tua mengiringi berbagai perlombaan, mulai dari atletik kids, pencak silat, hingga olahraga tradisional seperti egrang dan terompah panjang. Di sisi lain, panggung seni menghadirkan penampilan nyanyi solo, tari kreasi, hingga mendongeng yang memperlihatkan potensi siswa di bidang non-akademik.
Ajang ini bukan sekadar perlombaan. O2SN dan FLS2N menjadi ruang pembinaan karakter, sekaligus pintu seleksi bagi siswa berbakat untuk melangkah ke tingkat Kabupaten Karawang.
Namun di balik atmosfer positif tersebut, pelaksanaan kegiatan tak lepas dari catatan evaluasi. Sejumlah pihak menyoroti aspek manajemen penyelenggaraan, terutama terkait kehadiran panitia inti saat kegiatan berlangsung.
Ketua Bapopsi Jatisari dan ketua panitia disebut tidak berada di lokasi ketika acara masih berjalan. Upaya konfirmasi dari awak media pun belum membuahkan hasil. Informasi yang beredar menyebutkan keduanya tengah menjenguk rekan sejawat yang sakit.
Situasi ini memunculkan kritik dari pemerhati pendidikan setempat. Ia menilai, meski menjenguk rekan merupakan tindakan kemanusiaan, tanggung jawab terhadap jalannya kegiatan semestinya tetap menjadi prioritas.
“Ini soal pembagian peran. Kegiatan sebesar ini melibatkan ratusan siswa. Harus ada sistem yang memastikan acara tetap berjalan optimal, tanpa kehilangan kendali,” ujarnya.
Ketiadaan panitia inti, menurutnya, berpotensi menimbulkan kendala, terutama jika terjadi persoalan teknis di lapangan atau sengketa hasil lomba. Dalam kondisi seperti itu, keputusan cepat dan terukur sangat dibutuhkan.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kegiatan seperti O2SN bukan hanya kompetisi, tetapi juga sarana pendidikan karakter. Sikap disiplin, tanggung jawab, dan integritas justru tercermin dari bagaimana penyelenggara mengelola acara hingga selesai.
Di sinilah pentingnya profesionalisme. Apa yang dilakukan oleh panitia, disadari atau tidak, menjadi contoh nyata bagi para siswa sebuah “kurikulum tersembunyi” yang membentuk cara pandang mereka tentang kepemimpinan dan komitmen.
Terlepas dari dinamika yang ada, semangat para siswa tetap menjadi sorotan utama. Mereka hadir bukan hanya untuk menang, tetapi untuk belajar, berproses, dan menunjukkan potensi terbaik.
Dan dari lapangan Desa Pacing hari itu, satu hal menjadi jelas: di tengah antusiasme anak-anak, selalu ada ruang untuk berbenah-agar pendidikan karakter yang diharapkan benar-benar hidup, tidak hanya di atas panggung lomba, tetapi juga dalam setiap aspek penyelenggaraannya.***Red Man



























