Nyuhun Buhun di Lembur Pakuan, Dedi Mulyadi Rawat Tradisi dan Hadirkan Kebersamaan Warga
Daerah    Rabu 08 April 2026    18:32:28 WIBSubang - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga warisan budaya Sunda melalui perhelatan bertajuk “Nyuhun Buhun di Lembur Pakuan”. Kegiatan yang digelar selama empat hari, mulai 9 hingga 12 April 2026, berlangsung di kampung halamannya di Lembur Pakuan, Desa Sukasari, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang.
Perhelatan ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara tradisi, spiritualitas, dan kebersamaan warga. Sejak hari pertama, suasana khidmat dan kearifan lokal terasa kuat melalui prosesi Mantun dan Gemyung di Kuta Jaga Rasa. Kesenian Pantun Buhun yang sarat makna dibawakan oleh Mang Ayi Rajah, mengajak masyarakat kembali merenungi nilai-nilai leluhur.
Memasuki hari kedua, nuansa reflektif semakin mendalam dalam kegiatan Eling ka Indung di Bale Pamanah Rasa. Momen ini menjadi pengingat akan pentingnya penghormatan kepada orang tua, khususnya ibu, dalam kehidupan masyarakat Sunda.
Puncak kemeriahan diperkirakan terjadi pada Sabtu (11/4), saat iring-iringan Ngarak Budak Sunat berlangsung sejak siang hari. Tradisi yang sarat makna ini diwarnai ragam kesenian dari berbagai daerah, mulai dari Kuda Renggong Sumedang, Sisingaan Subang, hingga Bebegig Ciamis, Rengkong Sukabumi, dan kesenian lainnya. Kolaborasi lintas budaya tersebut menciptakan suasana semarak yang memperlihatkan kekayaan seni tradisional Jawa Barat.
Pada malam harinya, panggung budaya di Taman Sari Pohaci akan menghadirkan pagelaran dua dalang, yakni Dalang Irwana PRG Sunandar dan Dalang Iman Rohendi Purwa. Keduanya berkolaborasi menghidupkan pertunjukan wayang yang dipadukan dengan sentuhan komedi dari Oni SOS dan Ohang, menghadirkan hiburan yang merakyat sekaligus edukatif.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan sunatan massal pada Minggu pagi di Bale Kapeurih. Kegiatan sosial ini menjadi wujud nyata kepedulian terhadap masyarakat, sekaligus memperkuat nilai gotong royong yang menjadi ciri khas budaya lokal.
Melalui “Nyuhun Buhun”, Dedi Mulyadi tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk kembali mengakar pada nilai-nilai tradisi di tengah derasnya arus modernisasi. Perhelatan ini menjadi pengingat bahwa budaya bukan sekadar warisan, melainkan identitas yang perlu dijaga bersama.***Red Ahas
























