Jejak Harapan Titi: Dari Nyaris Putus Sekolah, Kini Mengabdi untuk Anak Yatim
Daerah    Rabu 29 April 2026    15:10:39 WIBKARAWANG - Pagi itu, halaman Yayasan Nahdlatul Ishlahiyah di Adiarsa Timur tampak lebih hidup dari biasanya. Di tengah proses pembangunan asrama baru untuk anak-anak yatim dan dhuafa, terselip kisah tentang keteguhan seorang perempuan muda yang tumbuh bersama tempat itu.
Namanya Titi Dewi Jayanti (26). Hari ini ia dikenal sebagai pengurus yayasan. Namun di balik perannya, tersimpan perjalanan panjang yang nyaris terhenti oleh keterbatasan ekonomi.
Sembilan tahun lalu, Titi hanyalah siswi kelas 10 SMK yang dihantui kecemasan. Usai lulus dari Madrasah Tsanawiyah, ia berada di titik di mana mimpi harus berhadapan dengan realitas. Biaya pendidikan menjadi penghalang yang terasa begitu tinggi.
“Titik terendah itu benar-benar saya rasakan,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).
Harapan datang dari arah yang tak disangka. Pertemuannya dengan Ifi, istri ketua yayasan yang kala itu menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Singaperbangsa Karawang di Desa Cilebar, menjadi titik balik dalam hidupnya.
Sejak saat itu, jalan Titi perlahan terbuka. Melalui yayasan, ia tidak hanya mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan, tetapi juga ruang untuk tumbuh dan berkontribusi. Dari membantu kegiatan sederhana, ia mulai memahami arti pengabdian.
Kesempatan itu ia jawab dengan kesungguhan. Titi berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi dan meraih gelar Sarjana Teknik Informatika dari STMIK Pamitran Karawang melalui beasiswa penuh.
Langkahnya tak berhenti. Kini ia tengah menempuh pendidikan Magister Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Muhammadiyah Indonesia, dengan satu tujuan: memperkuat pengelolaan pendidikan di yayasan yang telah membesarkannya.
“Saya ingin memberi dampak yang lebih besar,” katanya.
Hampir satu dekade mengabdi, Titi menyaksikan langsung denyut kehidupan di yayasan. Sekitar 15 anak tinggal secara permanen di sana—mereka yang tak hanya yatim dan dhuafa, tetapi juga kehilangan tempat untuk pulang, bahkan saat Idulfitri.
Bagi Titi, mereka bukan sekadar anak asuh. Mereka adalah keluarga.
Pembangunan asrama baru menjadi simbol harapan yang perlahan diwujudkan. Di tengah segala keterbatasan, setiap batu yang diletakkan adalah cermin dari mimpi yang terus diperjuangkan.
Perjalanan itu tidak selalu mudah. Pada 2022, kebakaran sempat melanda kawasan sekitar yayasan dan berdampak pada bangunan. Beruntung, tidak ada korban jiwa karena para santri tengah pulang kampung.
Peristiwa tersebut justru memperkuat tekadnya.
Dari yang pernah dipercaya sebagai bendahara hingga kini menjabat sekretaris yayasan, Titi memahami bahwa pengelolaan yang baik adalah fondasi keberlanjutan.
Lebih dari sekadar peran, ia membawa komitmen pribadi: tidak boleh ada lagi anak yang kehilangan masa depan karena keterbatasan biaya pendidikan.
Apa yang dulu hampir mematahkan langkahnya, kini menjadi bahan bakar untuk terus bergerak bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi mereka yang membutuhkan harapan.***Red-Emn
























