Waspada Kemarau Panjang, Karawang Perkuat Strategi Jaga Ketahanan Pangan
Pemerintahan    Minggu 12 April 2026    15:51:38 WIBKARAWANG - Ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang disebut “Godzilla” mulai diantisipasi serius oleh Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Karawang. Fenomena yang diperkirakan berlangsung pada April hingga Juni 2026 ini berpotensi memicu cuaca ekstrem, penurunan curah hujan, hingga peningkatan suhu udara yang berdampak langsung pada sektor pertanian.
Di tengah kekhawatiran tersebut, pemerintah daerah bergerak cepat. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DPKPP Karawang, Mahmud, menyebut istilah El Nino “Godzilla” menggambarkan kondisi kemarau dengan intensitas tinggi dan durasi lebih panjang dari biasanya.
“Periode April sampai Juni diperkirakan lebih kering dan lebih panjang. Ini harus diantisipasi sejak awal,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Mengacu pada kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), fenomena ini juga diperkuat oleh pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD) yang dapat memperpanjang musim kemarau di Indonesia, termasuk wilayah Karawang yang selama ini dikenal memiliki pola kemarau basah.
Untuk menjaga keberlangsungan produksi pertanian, DPKPP Karawang menyiapkan lima langkah strategis. Dimulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan dan penguatan sistem peringatan dini dengan melibatkan berbagai pihak, seperti Perum Jasa Tirta II dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Selain itu, optimalisasi infrastruktur air menjadi fokus utama melalui perbaikan jaringan irigasi agar distribusi air tetap terjaga. Upaya lain dilakukan dengan mempercepat masa tanam selama sisa musim hujan, serta menerapkan pola tanam tanpa jeda menggunakan metode olah tanah langsung tanam.
Tak hanya itu, kolaborasi lintas sektor juga diperkuat. DPKPP menggandeng TNI, UPTD pertanian, hingga para penyuluh untuk mendukung program pompanisasi air di wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan.
Mahmud menambahkan, hingga saat ini pemetaan wilayah rawan kekeringan masih terus dilakukan, terutama pada titik-titik irigasi yang mengalami kerusakan. Distribusi pompa air pun telah berjalan, diselaraskan dengan jadwal tanam melalui koordinasi bersama PJT II dan BBWS.
Di sisi lain, dukungan sarana produksi juga dipastikan tersedia. Kebutuhan pupuk telah diusulkan melalui mekanisme e-RDKK sejak awal tahun sebagai langkah antisipasi menjaga produktivitas petani.
Sebagai bentuk adaptasi, petani diimbau untuk mempercepat masa tanam dan memilih varietas padi tahan kekeringan seperti Inpago, Inpari 4, Inpari 13, Inpari 38, Inpari 46, Situbagendit, Pajajaran, hingga Cakrabuana.
Melalui berbagai upaya tersebut, Pemerintah Kabupaten Karawang berharap sektor pertanian tetap tangguh dan produktif, sekaligus mampu menjaga ketahanan pangan daerah di tengah ancaman kemarau ekstrem.***Red Yan
























