Menepis Stigma, GSI Karawang Pilih Hadir Nyata untuk Masyarakat
Daerah    Minggu 19 April 2026    16:46:23 WIBKarawang – Di tengah stigma negatif yang kerap melekat pada organisasi kemasyarakatan, Gerakan Siliwangi Indonesia (GSI) Korwil 3 Kabupaten Karawang justru menempuh jalan berbeda. Mereka memilih menjauh dari kesan unjuk kekuatan, dan fokus memperkuat struktur organisasi hingga ke tingkat desa agar aksi sosial benar-benar dirasakan masyarakat.
Ketua Korwil 3 GSI, Rocky Nurdin, menegaskan bahwa konsolidasi yang dilakukan bukan sekadar formalitas administratif. Bersama Sekretaris Eman Sulaeman, ia menyebut penguatan struktur sebagai fondasi membangun gerakan yang hidup dan responsif hingga ke akar rumput.
“Struktur kita sudah lengkap, dari pusat sampai desa. Artinya, ketika masyarakat butuh, kita bisa langsung bergerak tanpa menunggu lama,” ujar Rocky dalam diskusi internal, Minggu (19/4/2026).
Saat ini, GSI telah memiliki struktur berjenjang mulai dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Daerah (DPD), hingga Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) di tingkat kecamatan, serta ranting di desa. Khusus di wilayah Korwil 3 yang meliputi Batujaya, Pakisjaya, Cibuaya, Pedes, dan Tirtajaya, jumlah anggota disebut telah melampaui 300 orang dan tersebar hingga ke pelosok desa.
Namun bagi Rocky, kekuatan organisasi tidak terletak pada angka semata, melainkan pada kecepatan merespons kebutuhan masyarakat.
“Semua kecamatan sudah ada kepengurusan, bahkan sampai desa. Ini yang membuat gerakan kita bisa langsung menyentuh masyarakat,” katanya.
Di tengah maraknya kegiatan seremonial yang kerap menjadi “panggung” organisasi, GSI justru mengambil posisi berbeda. Mereka menegaskan tidak berorientasi pada pencitraan, melainkan pada kerja nyata di lapangan.
“Kita tidak mengejar terlihat besar. Kita tidak butuh panggung. Yang penting, saat masyarakat butuh, kita hadir,” tegas Rocky.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi jawaban atas stigma premanisme yang kerap disematkan pada sebagian organisasi kemasyarakatan. GSI, kata dia, ingin membangun citra sebagai organisasi sosial yang bekerja dan memberi dampak.
Komitmen itu diwujudkan melalui kegiatan rutin “Jumat Bersih” (Jumsih). Dalam kegiatan ini, anggota GSI turun langsung membersihkan lingkungan, mulai dari mengangkut sampah, membersihkan saluran air, hingga menyingkirkan eceng gondok di perairan—pekerjaan yang kerap terabaikan.
“Yang orang lain enggan lakukan, justru itu yang kita kerjakan,” ungkapnya.
Bagi GSI, gerakan sosial bukan sekadar momentum sesaat, melainkan komitmen berkelanjutan. Nilai gotong royong dan kepedulian menjadi fondasi utama dalam setiap langkah organisasi.
“Kita percaya, kebaikan yang kita tanam hari ini akan kembali suatu saat nanti,” kata Rocky.
Ke depan, GSI Korwil 3 menargetkan diri menjadi organisasi yang kehadirannya benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, tanpa memandang latar belakang.
“Harapan kami sederhana, selalu hadir saat masyarakat membutuhkan,” pungkasnya.***Red Emn/yan



























