Hangatnya Rancakalong Sumedang, Saat Budaya Menyatukan Tamu dan Tuan Rumah
Wisata    Minggu 19 April 2026    21:47:56 WIBSUMEDANG - Sore itu di Geoteater Rancakalong, budaya tidak sekadar dipentaskan, melainkan dihidupkan. Rombongan Komisi X DPR RI yang berkunjung pada (19/4/2026) disambut bukan hanya dengan seremoni, tetapi dengan denyut tradisi yang mengalir hangat dari masyarakat setempat.
Alunan Seni Musik Tanji membuka perjumpaan, menghadirkan lagu khas Kuda Sumedang yang langsung mengikat perhatian. Dari panggung sederhana, satu per satu pertunjukan tradisional tampil bergantian—pencak silat yang tegas, tari jaipongan yang luwes, hingga kaulinan barudak yang riang. Semua seolah menjadi jembatan, menghubungkan tamu dan tuan rumah dalam suasana yang cair.
Ketika lagu kaulinan barudak dimainkan, batas antara penonton dan pelaku seni nyaris hilang. Tawa, tepuk tangan, dan gerak tubuh yang spontan menciptakan kebersamaan yang sulit dibuat-buat. Di momen itulah, budaya menunjukkan wajah aslinya: inklusif dan menyatukan.
Generasi muda pun mengambil peran. Siswa SMP IT Insan Sejahtera tampil percaya diri membawakan angklung dengan sentuhan modern. Sebuah pesan sederhana, namun kuat—tradisi bisa tetap hidup tanpa harus kehilangan relevansi di tengah perubahan zaman.
Puncaknya, tarian Tarawangsa yang dibawakan para penari cilik menutup rangkaian acara dengan nuansa magis. Dalam keakraban yang terbangun, para tamu pun diajak menari bersama, melebur dalam ritme yang sama.
Anggota DPR RI Krisna Mukti tak menyembunyikan kekagumannya. Ia mengaku larut dalam alunan musik yang perlahan berubah dari tempo lambat menjadi cepat. “Saya menikmatinya sampai seperti terbawa suasana,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Venna Melinda. Ia menilai konsistensi Pemerintah Kabupaten Sumedang dalam merawat budaya menjadi kunci kuatnya identitas daerah. “Selama pemimpinnya peduli, budaya tidak akan hilang,” katanya.
Kunjungan Komisi X DPR RI—yang membidangi pendidikan, olahraga, sains, teknologi, dan perpustakaan—menjadi lebih dari sekadar agenda kerja. Di Rancakalong, mereka menyaksikan langsung bagaimana budaya dapat menjadi fondasi pembangunan manusia.
Dari panggung budaya itu pula, Sumedang mengirim pesan: kemajuan tidak harus meninggalkan akar. Justru dari akar itulah, jati diri tumbuh dan bertahan.
Usai dari Rancakalong, rombongan dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Bendungan Jatigede dan Menara Kujang Sapasang, menikmati sisi lain Sumedang yang tak kalah memikat.***Red Cece Ruhiyat
























