Di Tangan Petani Karangsari, Kopi Kuningan Menemukan Jalannya ke Dunia
Daerah    Minggu 19 April 2026    21:22:05 WIBKUNINGAN - Di lereng sunyi Blok Pasir Batang, Desa Karangsari, aroma kopi yang dipetik tangan-tangan petani tak lagi sekadar wangi kebun. Ia menjelma harapan—tentang desa yang terhubung dengan dunia, tentang kerja keras yang menemukan jalannya ke panggung internasional.
Minggu (19/4/2026), Pemerintah Kabupaten Kuningan menggelar Panen Kopi Bersama. Di tengah hamparan kebun, Bupati Dian Rachmat Yanuar berdiri tidak hanya sebagai kepala daerah, tetapi juga sebagai penyampai pesan: kopi Kuningan sedang bergerak, dan arahnya jelas—global.
“Ini bukan sekadar keikutsertaan, tetapi pernyataan bahwa kopi Kuningan siap bersaing di panggung dunia,” ujarnya, merujuk pada keikutsertaan kopi Karangsari dalam pameran internasional di Bangkok, termasuk ajang World of Coffee 2026 pada 7–9 Mei mendatang.
Namun bagi Dian, perjalanan kopi tidak dimulai di ruang pamer, melainkan dari kedisiplinan di kebun. Ia menekankan hal-hal sederhana yang kerap menentukan kualitas: memetik buah yang benar-benar matang, menjaga kebersihan proses, hingga merawat kejujuran dalam pemasaran.
Di balik optimisme itu, ada kerja kolektif yang tumbuh perlahan. Komunitas kopi Karangsari, yang kini berkembang menjadi kelompok tani hingga koperasi, berawal dari inisiatif pemuda di masa pandemi. Dari ruang terbatas, mereka membangun ekosistem—belajar, mencoba, dan bertahan.
“Sekarang kami sampai di titik ini. Tantangannya tinggal bagaimana menjaga kualitas dan meningkatkan produksi,” kata Dede Rokanda, yang mendampingi perjalanan komunitas tersebut.
Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan mencatat tren yang menguat. Produksi kopi robusta mencapai 1.173 ton dari lahan sekitar 1.500 hektare, sementara arabika menghasilkan 63 ton dari 236 hektare. Angka-angka itu menunjukkan geliat, meski belum sepenuhnya menjawab permintaan pasar yang terus tumbuh.
Di sinilah pekerjaan rumah berikutnya berada: memperluas lahan, memperbaiki bibit, dan memperkuat kapasitas petani. Pemerintah daerah menyatakan komitmennya untuk mendorong intensifikasi dan ekstensifikasi, sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan sektor swasta dan offtaker.
Bagi petani Karangsari, kopi kini bukan sekadar hasil panen. Ia adalah cerita tentang perubahan—tentang desa yang mulai percaya diri, tentang kualitas yang dijaga dengan kesabaran, dan tentang mimpi yang pelan-pelan menemukan panggungnya.
Dari lereng Kuningan, secangkir kopi sedang menempuh perjalanan panjang. Dan dunia, tampaknya, mulai menoleh.***Red Ading Permana




























