Dari Dapur yang Aman, Harapan Masa Depan Anak Bekasi Tumbuh Sehat dan Terjaga
Pemerintahan    Senin 20 April 2026    13:09:54 WIBKabupaten Bekasi - Di tengah pelaksanaan program besar yang menyasar kebutuhan dasar masyarakat, secercah kabar baik datang dari Kabupaten Bekasi. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah daerah tercatat berjalan tanpa satu pun kasus keracunan makanan—sebuah capaian yang tidak sederhana.
Apresiasi pun datang dari Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Demokrat, Cellica Nurrachadiana. Dalam Festival Aspirasi bertajuk “Dari Dapur ke Masa Depan” yang digelar di Gedung Swatantra Wibawamukti Plaza Pemda Kabupaten Bekasi, Senin (20/4/2026), ia menilai keberhasilan tersebut sebagai indikator kuat tata kelola program yang berjalan di jalur tepat.
“Ini patut diapresiasi. Sampai hari ini di Kabupaten Bekasi tidak ada kasus keracunan makanan dalam pelaksanaan MBG. Artinya, sistem yang dibangun sudah berada di jalur yang tepat,” ujar Cellica.
Bagi Cellica, capaian ini bukan sekadar angka nol dalam catatan insiden, melainkan hasil dari kerja kolektif yang disiplin—mulai dari pemilihan bahan pangan, proses pengolahan yang higienis, hingga distribusi yang terpantau dengan baik. Ia melihat adanya keseriusan pemerintah daerah dalam menjaga setiap detail yang kerap luput dari perhatian.
Lebih dari itu, ia menilai Kabupaten Bekasi berpotensi menjadi contoh nasional. Di tengah tantangan implementasi program skala besar, keberhasilan ini menunjukkan bahwa dengan tata kelola yang rapi dan pengawasan yang konsisten, program publik dapat berjalan aman sekaligus berdampak.
Namun, ia mengingatkan bahwa menjaga capaian jauh lebih menantang dibanding meraihnya. Konsistensi, menurutnya, menjadi kunci agar manfaat program tidak hanya terasa sesaat, tetapi berkelanjutan.
“Ke depan, yang perlu dijaga adalah kesinambungan. Jangan sampai capaian baik ini menurun. Justru harus ditingkatkan dengan kolaborasi dan pengawasan yang lebih kuat,” imbuhnya.
Program MBG sendiri tidak hanya menyasar pemenuhan gizi anak, tetapi juga membuka ruang bagi penguatan ekonomi lokal melalui keterlibatan pelaku usaha dan pemanfaatan produk daerah. Di titik ini, dapur bukan lagi sekadar tempat memasak, melainkan simpul penting yang menghubungkan kesehatan generasi muda dengan denyut ekonomi masyarakat.
Dengan capaian tanpa kasus keracunan, harapan itu kini terasa lebih nyata. Jika konsistensi terus dijaga, bukan tidak mungkin Kabupaten Bekasi akan menjadi rujukan—bahwa dari dapur yang aman, masa depan yang lebih sehat dapat mulai dibangun.***Red Samsudin




























