Benih Unggul untuk Petani Bahagia, Harapan Baru dari Sawah Subang
Daerah    Jumat 01 Mei 2026    14:48:58 WIBSubang – Harapan akan masa depan pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan kembali tumbuh dari hamparan sawah di wilayah Pusakajaya, Kabupaten Subang. Wakil Bupati Subang, H. Agus Masykur Rosyadi, menghadiri panen benih penjenis varietas padi unggul hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kamis (30/04/2026).
Kegiatan ini menjadi penanda penting kolaborasi antara lembaga riset negara dan sektor swasta melalui kerja sama BRIN dengan CV Fiona Benih Mandiri, yang telah terjalin sejak Desember 2025. Dari kemitraan tersebut, lahir empat varietas padi unggulan—Tropiko, Bestari, Inpari Sidenuk, dan Sinar—yang diharapkan mampu menjawab tantangan produktivitas pertanian.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati yang akrab disapa Kang Akur itu menilai kolaborasi ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi Subang sebagai salah satu lumbung padi nasional. Ia menekankan bahwa kehadiran benih unggul bukan sekadar soal peningkatan hasil panen, tetapi juga tentang kesejahteraan petani.
“Kalau produktivitas meningkat dan harga gabah baik, maka petani kita akan semakin sejahtera. Itu tujuan utama kita,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya integrasi teknologi dalam sektor pertanian. Menurutnya, modernisasi pertanian menjadi keniscayaan agar petani mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, mulai dari penggunaan benih berkualitas hingga penerapan teknologi tepat guna di lapangan.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menjelaskan bahwa benih yang dipanen merupakan benih penjenis (breeder seed) dengan tingkat kemurnian tertinggi. Benih ini nantinya akan dikembangkan ke tahap berikutnya sebelum didistribusikan secara luas kepada petani.
“Ini bagian dari upaya kami memberikan pilihan varietas yang sesuai dengan karakter lahan. Dengan begitu, petani bisa lebih fleksibel dan produktif,” jelasnya.
Kepala BRIN, Prof. Arif Satria, menambahkan bahwa tantangan utama saat ini bukan lagi pada menghasilkan inovasi, melainkan bagaimana mempercepat hilirisasi hasil riset agar segera dirasakan manfaatnya oleh petani.
“Kami ingin riset tidak berhenti di laboratorium. Harus sampai ke sawah dan memberikan dampak nyata,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya penerapan praktik pengelolaan terbaik (best practice management), serta mendorong pengembangan smart farming dan mekanisasi berbasis teknologi dalam negeri sebagai bagian dari kemandirian pertanian nasional.
Usai panen simbolis, rombongan melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi Kampung Inovasi IPB di Kecamatan Compreng, sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem inovasi pertanian di daerah.
Kehadiran berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga pelaku usaha, menjadi cerminan bahwa masa depan pertanian Indonesia hanya dapat dibangun melalui kolaborasi. Dari Subang, benih-benih inovasi itu kini mulai tumbuh membawa harapan baru bagi petani dan ketahanan pangan negeri.***Red-Ahas




























