Rebo Nyunda, Cara SMK Tri Mitra Menjaga Bahasa Ibu di Tengah Arus Modernisasi
Pendidikan    Rabu 06 Mei 2026    11:23:26 WIBKarawang - Suasana berbeda tampak dalam apel pagi di SMK Tri Mitra setiap hari Rabu. Bukan sekadar rutinitas seremonial, kegiatan yang dikemas dalam program Rebo Nyunda ini menjadi ruang hidup bagi pelestarian bahasa dan budaya Sunda di lingkungan sekolah.
Dalam kegiatan tersebut, seluruh peserta didik dibiasakan menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa komunikasi utama, baik saat apel maupun dalam interaksi sehari-hari di sekolah. Tidak hanya itu, Rebo Nyunda juga diisi dengan berbagai penampilan edukatif dari siswa yang telah dijadwalkan secara bergilir.

Para siswa tampil percaya diri membawakan beragam materi khas Sunda, mulai dari biantara (pidato), carpon (cerita pendek), sajak Sunda, hingga bentuk ekspresi budaya lainnya. Kegiatan ini tidak hanya melatih kemampuan berbahasa, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya lokal.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Tri Mitra, Rendi Kurniawan, S.Pd., menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya sekolah dalam membentuk karakter siswa yang berakar pada budaya daerah.
“Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, kami melihat ada kecenderungan generasi muda mulai menjauh dari bahasa daerahnya sendiri. Melalui Rebo Nyunda, kami ingin menghadirkan ruang pembiasaan yang sederhana namun bermakna, agar siswa tidak hanya mengenal, tetapi juga terbiasa menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Rendi, Rabu (6/5/2026).
Ia menambahkan, kegiatan ini bukan sekadar simbolik, melainkan dirancang sebagai proses pembelajaran yang berkelanjutan. Dengan keterlibatan aktif siswa melalui presentasi, mereka didorong untuk menggali literasi budaya sekaligus meningkatkan kepercayaan diri dalam berkomunikasi.
“Ketika siswa tampil membawakan biantara atau sajak Sunda, di situ ada proses belajar yang utuh—mulai dari memahami isi, mengolah bahasa, hingga menyampaikan dengan ekspresi. Ini menjadi bekal penting, tidak hanya dalam konteks budaya, tetapi juga dalam keterampilan komunikasi mereka,” jelasnya.
Lebih jauh, Rendi menegaskan bahwa pelestarian bahasa daerah tidak bisa hanya dibebankan pada mata pelajaran formal semata. Dibutuhkan kebiasaan yang dibangun secara kolektif di lingkungan sekolah.
“Kami ingin menciptakan ekosistem yang mendukung. Ketika seluruh warga sekolah ikut menggunakan bahasa Sunda setiap hari Rabu, maka akan tercipta suasana yang natural. Dari situlah kebiasaan itu tumbuh dan diharapkan terbawa hingga ke lingkungan masyarakat,” katanya.
Program Rebo Nyunda pun mendapat respons positif dari para siswa. Selain menjadi sarana berekspresi, kegiatan ini juga mempererat kebersamaan dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya.
Di tengah gempuran budaya global, langkah sederhana seperti yang dilakukan SMK Tri Mitra menjadi pengingat bahwa menjaga bahasa ibu bukan hanya soal mempertahankan tradisi, tetapi juga merawat jati diri generasi bangsa.***Red-Man




























