Ngariung Jadi Kekuatan: Dari Saung Rahayat, Kuningan Menemukan Cara Membangun Ekonomi Bersama
Pemerintahan    Jumat 10 April 2026    23:41:17 WIBKUNINGAN - Di tengah derasnya arus modernisasi ekonomi yang sering bertumpu pada teknologi dan investasi besar, Kabupaten Kuningan justru menemukan kekuatan dari akar budayanya sendiri: kebersamaan.
Pelajaran itu tercermin dalam gelaran Saung Rahayat 2025, sebuah festival UMKM yang tak sekadar menjadi ajang promosi produk, tetapi menjelma menjadi ruang hidup bagi interaksi sosial, kolaborasi, dan pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas.
Mengusung tema “Baraya” yang dalam Bahasa Sunda berarti keluarga Saung Rahayat menghadirkan pendekatan berbeda dalam membangun ekonomi lokal. Bukan sekadar transaksi, tetapi relasi. Bukan hanya pasar, tetapi ekosistem.
Festival ini mencatat 10.920 pengunjung dengan perputaran uang mencapai Rp220 juta lebih. Namun, capaian tersebut hanyalah satu sisi dari cerita. Di balik angka, ada jejaring baru yang terbentuk, kepercayaan yang tumbuh, dan peluang kolaborasi yang terus berkembang.
Dari Tradisi ke Strategi
Salah satu kekuatan utama Saung Rahayat terletak pada bagaimana konsep “ngariung” dimaknai ulang. Jika selama ini ngariung identik dengan berkumpul santai, dalam konteks ini ia menjadi metode pendekatan sosial yang mendalam.
Panitia tidak sekadar merancang acara dari balik meja. Mereka turun langsung ke masyarakat, berdialog dengan pelaku UMKM, komunitas, hingga pemerintah daerah. Dari proses itulah, konsep acara lahir secara organik bukan dipaksakan dari luar.
Pendekatan ini membuat masyarakat merasa memiliki. Festival bukan lagi milik penyelenggara, tetapi milik bersama.
Ekonomi yang Tumbuh dari Rasa Memiliki
Saung Rahayat menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi yang berkelanjutan tidak selalu harus dimulai dari strategi besar. Kadang, ia justru tumbuh dari hal sederhana: mendengar, memahami, dan membangun kepercayaan.
Konsep “baraya” menempatkan semua pihak dalam posisi setara. Pelaku usaha, akademisi, pemerintah, hingga masyarakat umum menjadi bagian dari satu keluarga besar yang saling mendukung.
Di sinilah letak kekuatan sebenarnya: ekonomi yang dibangun bukan hanya untuk keuntungan, tetapi untuk kesejahteraan bersama.
Relevansi untuk Masa Depan Daerah
Apa yang terjadi di Kuningan memberi pesan penting bagi daerah lain. Bahwa setiap wilayah memiliki identitas, budaya, dan dinamika sosial yang unik yang tidak bisa diseragamkan dengan pendekatan luar.
Ngariung mengajarkan pentingnya hadir dan mendengar. Sementara baraya menegaskan bahwa pembangunan adalah kerja kolektif.
Bagi para penyelenggara kegiatan dan pemangku kebijakan, ini berarti menggeser fokus dari sekadar membuat acara menjadi membangun ekosistem yang relevan dengan masyarakatnya.
Komitmen Kolaborasi Berkelanjutan
Semangat kolaborasi ini juga sejalan dengan komitmen Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, yang terus membuka ruang sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha.
Keterlibatan mahasiswa sebagai representasi generasi muda turut memperkuat dinamika tersebut, menjadikan Saung Rahayat bukan hanya peristiwa tahunan, tetapi bagian dari gerakan sosial-ekonomi yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, Saung Rahayat 2025 mengingatkan bahwa masa depan ekonomi daerah tidak selalu harus rumit. Kadang, jawabannya sudah ada di sekitar kita dalam budaya, dalam kebersamaan.
Dan mungkin, langkah awalnya sesederhana ini: duduk bersama, lalu mulai mendengarkan.***Red Ading Permana
























