Hangatnya Sambutan untuk Warga Baduy, Tradisi Seba 2026 Sarat Makna Kebersamaan
Daerah    Sabtu 25 April 2026    14:21:49 WIBLebak – Suasana khidmat sekaligus penuh kehangatan menyelimuti Pendopo Kabupaten Lebak pada Jumat, 24 April 2026. Sebanyak 1.552 masyarakat adat Baduy tiba untuk melaksanakan rangkaian tradisi Seba Baduy, sebuah ritual tahunan yang sarat nilai budaya dan kearifan lokal.
Kedatangan rombongan disambut langsung oleh Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah. Dengan penuh rasa hormat, ia menyampaikan kebahagiaannya dapat kembali menerima masyarakat adat Baduy yang setia menjaga tradisi leluhur di tengah arus modernisasi.
Dalam sambutannya, Amir Hamzah mempersilakan seluruh rombongan untuk beristirahat di Pendopo sebelum mengikuti prosesi inti Seba yang akan digelar pada malam harinya. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah selalu membuka ruang dan memberikan dukungan penuh terhadap pelestarian budaya yang menjadi identitas masyarakat Lebak.
“Selamat datang kepada seluruh warga Baduy. Kami merasa terhormat dan bahagia dapat menyambut kedatangan saudara-saudara sekalian. Silakan beristirahat terlebih dahulu sebelum melaksanakan rangkaian Seba malam nanti,” ujarnya.
Seba Baduy tahun ini diikuti oleh 37 warga Baduy Dalam dan 1.515 warga Baduy Luar. Perjalanan panjang yang mereka tempuh dengan berjalan kaki mencerminkan keteguhan dalam memegang adat serta penghormatan kepada pemerintah sebagai bagian dari tradisi turun-temurun.
Tradisi Seba sendiri merupakan wujud syukur masyarakat Baduy atas hasil bumi sekaligus simbol ketaatan kepada pemerintah. Dalam prosesi ini, warga Baduy menyerahkan hasil alam sebagai bentuk penghormatan kepada “Bapa Gede” atau kepala daerah, sekaligus menyampaikan pesan moral tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Kehadiran masyarakat Baduy tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga pengingat akan nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, dan harmoni dengan alam yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Momentum Seba Baduy 2026 pun kembali menegaskan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan jembatan yang menghubungkan kearifan leluhur dengan kehidupan masa kini.***Red-Elsa Fitria
























