Dari Cicinde untuk Budaya: Semangat Anak Desa Menjaga Warisan Lewat Prestasi
Pendidikan    Jumat 01 Mei 2026    16:23:16 WIBKarawang - Di tengah derasnya arus digital yang kian mendominasi kehidupan anak-anak, secercah harapan justru tumbuh dari ruang-ruang kelas sederhana di Kecamatan Banyusari Kabupaten Karawang. SDN Cicinde Selatan 1 membuktikan bahwa akar budaya tak mudah tercerabut, selama ada ketekunan, kesabaran, dan cinta yang ditanamkan sejak dini.
Sekolah dasar yang dipimpin Saepul Nurdin, S.Pd. itu kembali menegaskan dominasinya. Setelah menyapu gelar Juara Umum pada ajang O2SN dan PAI, mereka kini mengukuhkan diri sebagai Juara Umum Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 tingkat kecamatan, yang digelar di SDN Cicinde Utara 1, Kamis (30/4/2026).
Bukan sekadar menang, SDN Cicinde Selatan 1 tampil nyaris tanpa celah. Tujuh gelar juara pertama berhasil dibawa pulang, masing-masing dari cabang Aksara Sunda, Ngadongeng Putra dan Putri, Maca Sajak Putra, Ngabodor Putra (Borangan), Nembang Pupuh Putra, serta Biantara Putra. Tambahan enam trofi dari posisi juara dua dan tiga semakin mengukuhkan keunggulan mereka di panggung budaya tahun ini.
Di balik deretan piala itu, tersimpan proses panjang yang tidak instan. Para siswa ditempa bukan hanya untuk tampil, tetapi untuk memahami makna. Mereka belajar meresapi bahasa ibu, menumbuhkan rasa percaya diri, sekaligus mengasah kepekaan rasa melalui seni tutur dan sastra Sunda.
“Semua butuh proses. Ini hasil dari kesabaran guru pembimbing dalam melatih siswa,” ujar Saepul Nurdin.
Keberhasilan ini sekaligus mencerminkan sistem pembinaan yang terarah dan konsisten. Tidak hanya fokus pada momen lomba, sekolah ini menjadikan literasi dan seni budaya sebagai bagian dari keseharian siswa. Sebuah pendekatan yang kini terasa semakin relevan, di saat perhatian anak-anak mudah teralihkan oleh gawai dan konten instan.
Lebih dari sekadar prestasi, kemenangan ini membawa pesan penting: budaya lokal masih hidup, dan generasi muda masih mau merawatnya. Melalui aksara, pupuh, dongeng, hingga humor tradisional, para siswa menunjukkan bahwa identitas tidak harus kalah oleh zaman.
Namun perjalanan belum usai. Tantangan berikutnya menanti di tingkat Kabupaten Karawang, di mana persaingan akan semakin ketat. SDN Cicinde Selatan 1 kini bersiap, bukan hanya dengan kemampuan teknis, tetapi juga penguatan mental para peserta didik.
“Ini baru langkah awal. Kami berharap anak-anak bisa terus berkembang dan membawa nama baik Banyusari ke tingkat yang lebih tinggi,” kata Saepul.
Dari sebuah desa di Karawang, anak-anak itu sedang menyuarakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kemenangan: bahwa menjaga budaya adalah tentang keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah perubahan zaman.***Red-Man
























