Habbina
Di Usia 71 Tahun, Abah Ujang Akhirnya Bisa Mengayuh Becak Listrik
0 Komentar 156 pembaca

Di Usia 71 Tahun, Abah Ujang Akhirnya Bisa Mengayuh Becak Listrik

Daerah

KARAWANG – Hampir setengah abad jalanan Karawang menjadi bagian dari perjalanan hidup Abah Ujang. Sejak 1979, pria berusia 71 tahun itu setia mengayuh becak demi memenuhi kebutuhan keluarganya.
Kini, ketika tenaga tak lagi sekuat masa muda, Abah Ujang mendapat harapan baru. Sebuah becak listrik bantuan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto diterimanya untuk menunjang aktivitas mencari nafkah sehari-hari.
Abah Ujang selama ini mangkal di kawasan Bundaran RSUD Karawang. Dari tempat itu, ia telah mengantar begitu banyak penumpang, mulai dari perjalanan menuju pasar, alun-alun, hingga perjalanan jauh ke Bekasi.
“Ngabecak tahun ’79,” kata Abah Ujang kepada awak media, Minggu (4/10/2026).
Ia masih mengingat masa ketika mengayuh becak bukan perkara berat. Saat tubuhnya masih kuat, jarak puluhan kilometer pun sanggup ditempuh demi mengantarkan penumpang.
“Kapungkur mah dugi kamana ge kiat, dugi ka Bekasi. Ayeuna mah tos teu kuat,” ujarnya.
Namun, waktu mengubah segalanya. Usia yang terus bertambah membuat kekuatan fisiknya menurun. Kini ia lebih banyak menerima penumpang untuk perjalanan jarak dekat.
Penghasilannya pun ikut menyusut. Jika dahulu bisa membawa pulang uang hingga ratusan ribu rupiah, sekarang mendapatkan Rp30 ribu dalam sehari sudah menjadi rezeki yang patut disyukuri.
“Kapungkur mah nyampe ratusan. Ayeuna mah teu aya pisan, dikasih paling 30,” katanya.
Meski begitu, Abah Ujang tak memilih berhenti. Hampir setiap hari ia tetap datang ke tempat mangkalnya, menunggu siapa saja yang membutuhkan jasanya.
“Unggal dinteun wae. Ngan kadang-kadang kenging, kadang-kadang teu,” tuturnya.
Puluhan tahun mengayuh becak juga meninggalkan rasa lelah pada tubuhnya. Ia mengaku kerap mengalami kesemutan dan nyeri pada kaki. Namun, kebutuhan hidup membuatnya tetap bertahan.
Anaknya memang turut membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Tetapi bagi Abah Ujang, selama masih mampu bekerja, mengayuh becak tetap menjadi bagian dari ikhtiarnya.
“Kudu kumaha atuh, da ku anak ge dibantu. Tetep berobat mah berobat wae,” ujarnya.
Di balik kesederhanaannya, Abah Ujang menyimpan banyak cerita selama menjalani profesi sebagai tukang becak. Salah satunya pengalaman ketika pernah ditipu penumpang.
Saat itu, ia mengantar seorang penumpang ke kawasan Johar. Penumpang tersebut meminta Abah Ujang menunggu sambil menitipkan sebuah kantong plastik.
Dua jam berlalu. Orang yang ditunggu tak kunjung kembali.
Ketika kantong plastik itu dibuka, Abah Ujang mendapati isinya bukan barang berharga seperti yang mungkin dibayangkannya, melainkan hanya batu bata.
“Pernah Abah ditipu, pelanggan teh bade ka Johar, saurna nitip kresek. Diantosan we sampe dua jam, ditunggu teu aya uih wae. Ari dibuka teh kresekna bata,” kenangnya.
Ia juga masih mengingat masa ketika profesi tukang becak cukup ramai, terutama saat krisis moneter 1997. Kala itu, uang Rp10 ribu yang diperoleh dari mengayuh becak sudah sangat berarti untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Pas moneter ’97, rada rame. Lumayan. Jadi kenging artos sapuluh rebu ge manfaat,” katanya.
Kini, setelah 47 tahun mengandalkan tenaga kaki, Abah Ujang mendapat kesempatan untuk mengayuh dengan cara yang berbeda.
Ia mengaku awalnya tidak mengetahui akan menerima bantuan becak listrik. Ada seseorang yang membantu mendaftarkan dirinya. Setelah melalui pendataan dan pemeriksaan dokumen, namanya akhirnya tercatat sebagai salah satu penerima.
Sebelum bantuan diserahkan, Abah Ujang juga sempat mengikuti pelatihan untuk mengetahui cara mengoperasikan becak listrik tersebut.
Pengalaman pertama menggunakannya membuat wajah renta itu kembali menyimpan semangat.
“Alhamdulillah, ayeuna aya bantuan. Tadi aya tarikanna, rada semangat,” ucapnya.
Abah Ujang tinggal di kawasan Ulekan, belakang RSUD Karawang. Di rumahnya, masih ada seorang anak yang duduk di bangku SMK yang menjadi bagian dari tanggung jawabnya sebagai orang tua.
Bagi Abah Ujang, becak listrik bukan sekadar kendaraan baru. Setelah hampir setengah abad mengayuh becak konvensional, bantuan tersebut menjadi kesempatan untuk tetap bekerja ketika kekuatan tubuh perlahan berkurang.
Ia mungkin tak lagi mampu menempuh jarak sejauh dulu. Namun, semangat untuk terus mencari nafkah belum padam.
“Ya alhamdulillah, hatur nuhun pisan,” ucap Abah Ujang lirih.
Di usia 71 tahun, Abah Ujang kembali menatap jalanan Karawang. Kali ini, bukan hanya dengan tenaga yang tersisa, tetapi juga dengan harapan baru agar langkah hidupnya tetap berjalan.***Dede Mulyadi

Author

Tarman Suherman
Profil Tarman Suherman

PT. TRI MITRA INFONUSA

SUSUNAN KEPENGURUSAN

INFONUSA-NEWS.COM

Pendidikan, Wisata & Budaya

PEMIMPIN UMUM/PEMIMPIN REDAKSI: Iwan Sumitra, ST., S., Kom., MM. REDAKTUR PELAKSANA: Agung Kurnia Putra. BIDANG IT: Deni Akbar. BIDANG VIDEO: Wawan. STAF REDAKSI: Ilham Abdulah. WARTAWAN DAERAH: KABIRO PURWASUKASI- (PURWAKARTA-SUBANG-KARAWANG-BEKASI): Tarman Suherman, KARAWANG-Emin Sule, Suryana, Dede Mulyadi. SUBANG: Udin Wahyudin, Tajudin, Ali Hasan. PURWAKARTA: Agus Muslim, Yayan Maulana. JAKARTA: Bambang EP.  Sahidin Bagus Irianto BEKASI: Samsudin, M. Subekti. BOGOR:  Abdullah, Jajang Suhendi DEPOK: Rani Oktaviani, Dwi Sapitri. BANTEN: Jajat. Karna Wijaya. BANDUNG: Ayi Herlambang, Danang Ari Wibowo. CIMAHI: Adre Sutisna, Lukman Jaelani. LEBAK: Elsa Fitria, Casim Mustopa. BANTEN: Jajat Munajat, Hendro Mulyanto. INDRAMAYU: Fikri Rianto, Dadang Hidayat. CIREBON: Bagustian, Ade Firmansyah. KUNINGAN: Ading Permana, Susanto. MAJALENGKA. Abah Ojo, Abdul Wahab. SUMEDANG: Cece Ruhiyat, Santi Mulyani. TASIKMALAYA: Baden, Karna Mulyana. CIAMIS: Aam Amira, Deden Supriadi. PANGANDARAN: Doni Saputra, Nana Suryana. SUKABUMI/KOTA SUKABUMI: Dadan Sundana, Nilan Abdul Hadi, GARUT: Sopiyan, Nani Wijaya. CIANJUR: Dede Ruhyana, Amir Mahmud. KOTA BANJAR: Gugun Gunawan, Winarto. TANGGERANG: Reza Andika, Irma Yulianti. PALEMBANG: Morry Iskandar. Alamat Redaksi: Jalan Raya By Pas Jomin Blok Semper Desa Jomin Barat Kecamatan Kotabaru Kabupaten Karawang Jawa Barat. 

 

 

Catatan Redaksi :

Setiap Kontributor kami dalam menjalankan tugasnya di lapangan Dibekali KTA & Surat Tugas yang masih berlaku & namanya tercantum di Boxs Redaksi. Bilamana terdapat wartawan yang namanya tidak tertera dalam boxs redaksi, segala tindakan yang dilakukan adalah diluar tanggung jawab redaksi.

TTD Redaksi

 

 

 


Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Back to Top