Ratna dan Senyum yang Tak Pernah Padam di Tengah Kerasnya Hidup
Daerah    Selasa 06 Januari 2026    15:34:01 WIBKarawang- Senyum ramah dan sapaan halus yang kerap terdengar di warung-warung kecil hingga lapak pinggir jalan di Karawang menyimpan kisah hidup yang tak selalu manis. Di balik itu, ada Ratna, seorang perempuan perantau asal Kabupaten Garut, yang setiap hari berjibaku dengan target penjualan sebagai Sales Promotion Girl (SPG) rokok Djarum Super.
Sudah hampir empat bulan Ratna menjalani pekerjaan yang sama sekali baru baginya. Setiap hari, ia dibebani target menjual 40 bungkus rokok angka yang tak mudah dicapai di tengah daya beli masyarakat yang naik-turun.
“Ini pertama kali saya jadi SPG rokok. Sebelumnya kerja di pabrik, sambil ngurus rumah di Garut,” ujar Ratna saat ditemui di sela aktivitasnya, Selasa (6/1/2026).
Keputusan merantau ke Karawang diambilnya tanpa banyak pertimbangan. Ajakan seorang teman menjadi pintu masuk Ratna ke dunia kerja yang penuh tekanan target. Demi menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan anaknya, ia memberanikan diri meninggalkan kampung halaman.
“Awalnya ditawarin teman, ya saya coba saja,” ucapnya singkat.
Setiap hari, Ratna mulai bekerja sejak pukul 10.00 WIB hingga sekitar pukul 18.00 WIB. Ia berkeliling bersama dua SPG perempuan lainnya menggunakan satu mobil operasional, ditemani seorang sopir laki-laki yang juga bertindak sebagai team leader (TL). Dari satu warung ke warung lain, dari satu sudut jalan ke sudut lainnya, Ratna menawarkan produk dengan senyum yang tak pernah ia lepaskan.
Namun sistem kerja berbasis target membuat beban semakin berat. Jika mampu menyetorkan 40 bungkus rokok per hari, Ratna berhak atas fee sebesar Rp250.000. Sayangnya, realitas di lapangan sering kali tak seindah hitungan di atas kertas.
“Kadang paling keluar lima sampai sepuluh bungkus saja. Tapi ke perusahaan tetap harus 40,” ungkapnya lirih.
Artinya, kekurangan penjualan tetap harus ditanggung. Konsekuensi itu menjadi risiko yang mau tak mau harus dihadapi Ratna setiap hari.
Sebagai perantau, ia juga memikul beban biaya hidup sendiri. Ratna memilih kos sederhana dengan biaya sekitar Rp600.000 per bulan demi menekan pengeluaran, agar tetap bisa mengirim uang untuk anaknya di kampung.
Statusnya sebagai janda dengan seorang anak membuat perjuangan Ratna terasa berlipat. Di lapangan, ia harus berhadapan dengan beragam karakter konsumen dari yang ramah, acuh tak acuh, hingga memandang sebelah mata.
Namun Ratna tetap bertahan.
Di tengah tekanan target, keterbatasan ekonomi, dan kerasnya kehidupan perantauan, ia menyimpan harapan sederhana.
“Saya pengen ada yang nafkahin,” katanya pelan, sembari tersenyum kecil.
Kisah Ratna menjadi potret nyata kerasnya kehidupan pekerja sektor informal, khususnya SPG rokok, yang dituntut mengejar target tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi. Sebuah cerita tentang ketegaran perempuan di balik etalase industri rokok-jarang terdengar, namun nyata dirasakan.***Man




























