Menjaga Langit Ibu Kota: Ketika Sains dan Negara Bersatu Hadapi Ancaman Hujan Ekstrem
Daerah    Rabu 21 Januari 2026    16:11:42 WIBJAKARTA -Langit Jakarta kini dijaga dengan cara yang tak biasa. Di tengah kekhawatiran akan hujan ekstrem yang berpotensi memicu banjir dan bencana hidrometeorologi sepanjang Januari 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama BPBD DKI Jakarta dan TNI Angkatan Udara resmi menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sebuah ikhtiar darurat yang memadukan sains, teknologi, dan kerja lintas lembaga demi melindungi jutaan warga di kawasan Jabodetabek.
Operasi yang berlangsung pada 16–22 Januari 2026 ini dikomandoi dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Dari landasan ini, satu unit pesawat Casa 212 A-2105 disiagakan setiap hari, menanti waktu yang tepat untuk mengudara. Bukan untuk latihan militer, melainkan membawa misi kemanusiaan: menyemai awan dengan bahan higroskopis berupa Natrium Klorida (NaCl) dan Kalsium Oksida (CaO).
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan bahwa operasi difokuskan pada awan-awan hujan yang masih berada di wilayah laut. “Penyemaian dilakukan sebelum awan masuk ke daratan Jabodetabek. Tujuannya agar potensi hujan lebat dilepaskan lebih awal di laut, sehingga intensitas hujan di daratan dapat berkurang,” ujarnya.
Langkah ini bukan sekadar eksperimen, melainkan hasil analisis dinamika atmosfer dan pemantauan cuaca secara real time. Setiap sortie penerbangan didahului kajian mendalam terhadap pertumbuhan awan, arah angin, hingga potensi pembentukan awan konvektif yang bisa membawa hujan ekstrem. Di ruang komando, para meteorolog bekerja berdampingan dengan kru TNI AU, membaca peta cuaca dan citra radar dengan ketelitian tinggi.
Bagi Jakarta, upaya ini menjadi bagian dari strategi mitigasi risiko bencana yang kian kompleks di tengah perubahan iklim. Curah hujan yang semakin tidak menentu, durasi hujan yang lebih panjang, serta intensitas yang meningkat menjadi tantangan serius bagi wilayah padat penduduk dengan sistem drainase yang terbatas. OMC diharapkan mampu menjadi “rem darurat” untuk menekan akumulasi hujan pada waktu dan tempat yang kritis.
BPBD DKI Jakarta menilai operasi ini sebagai langkah preventif yang penting, sekaligus pelengkap dari kesiapsiagaan di darat. Pompa air, pintu air, dan petugas lapangan tetap disiagakan. Namun, mengurangi hujan sebelum jatuh ke bumi dinilai dapat memberi waktu dan ruang bagi sistem pengendalian banjir bekerja lebih efektif.
Di balik deru mesin pesawat yang membelah awan, tersimpan harapan banyak orang: pedagang kecil yang cemas dagangannya terendam, keluarga di bantaran sungai yang selalu waspada, hingga para pekerja yang setiap hari bergantung pada kelancaran aktivitas kota. Operasi Modifikasi Cuaca menjadi simbol bahwa negara hadir bukan hanya setelah bencana terjadi, tetapi juga ketika ancaman masih menggantung di langit.
Ketika sains bertemu kepedulian, dan langit dijaga dengan ikhtiar terbaik, Jakarta berharap hujan tak lagi datang sebagai petaka, melainkan berkah yang bisa dikendalikan***Bambang. Ep




























