Habbina
Menjaga Nyala Kasumedangan, Budaya yang Menuntun Zaman
0 Komentar 125 pembaca

Menjaga Nyala Kasumedangan, Budaya yang Menuntun Zaman

Daerah

SUMEDANG – Malam itu, halaman parkir Mal Pelayanan Publik (MPP) Sumedang berubah menjadi panggung kebanggaan. Di bawah langit Sabtu (14/2/2026) malam, denyut seni tradisi kembali menggema lewat pertunjukan Tari Eak-eakan hingga teatrikal kolosal Ekosistem Budaya Kasumedangan: Ngajajap Rasa Panghiap Ratu (Intelektual Renaissance Sang Pangeran).

Pagelaran budaya tersebut kian semarak dengan kehadiran Maruarar Sirait atau Bang Ara dan Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM. Kehadiran keduanya menjadi penanda bahwa pelestarian budaya bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen bersama menjaga warisan yang membentuk jati diri daerah.

Sejak awal, Tari Eak-eakan membakar semangat penonton. Gerakan dinamis para penari berpadu dengan irama musik tradisional Sunda, menghadirkan energi yang menyentuh sekaligus membangkitkan rasa bangga sebagai bagian dari tanah Kasumedangan. Setiap hentakan kaki dan ayunan tangan seakan menjadi bahasa yang menyapa ingatan kolektif tentang akar budaya yang tak lekang oleh waktu.

Pertunjukan berlanjut dengan tari kolosal Ngajajap Rasa – Panghiap Ratu. Formasi artistik dengan jumlah penari yang besar menciptakan lanskap visual yang megah. Tarian ini menggambarkan perjalanan nilai kehidupan masyarakat Sumedang: tentang kebersamaan, rasa syukur, hingga penguatan identitas budaya yang diwariskan para leluhur.

Tak berhenti pada estetika gerak, pementasan diperkaya teatrikal yang menuturkan perjalanan peradaban Sumedang dari masa kejayaan hingga relevansinya di era modern. Pada babak pembuka, penonton diajak menyusuri Sumedang sebagai tanah agung yang menjunjung harmoni antara manusia dan alam. Gunung, hutan, air, dan tanah digambarkan sebagai titipan leluhur yang wajib dijaga dengan tanggung jawab moral.

Memasuki babak berikutnya, panggung mengisahkan momentum masuknya Islam ke Sumedang Larang melalui dakwah Pangeran Kusumahdinata kepada Ratu Inten Dewata. Narasi itu menegaskan bahwa Islam hadir bukan untuk meniadakan tradisi, melainkan menyempurnakannya—menciptakan harmoni antara syariat, adat, dan kepemimpinan yang bijaksana.

Refleksi kemudian mengarah pada konteks Indonesia modern. Pesan yang mengemuka: kepemimpinan yang berakar pada budaya akan lebih membumi, sementara kepemimpinan yang berlandaskan keimanan menjaga amanah dengan adil dan arif. Nilai-nilai Kasumedangan ditempatkan sebagai fondasi moral yang tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Puncak pertunjukan ditandai prosesi simbolis penyerahan hanjuang dan kujang pusaka Sunda. Hanjuang dimaknai sebagai amanah perjuangan leluhur, sedangkan kujang melambangkan ketajaman pikir, keberanian, serta semangat memperjuangkan kebenaran dengan welas asih dan budi pekerti luhur.

Tokoh seni dan budaya Sumedang, Ujang Bejo, menegaskan bahwa pagelaran tersebut bukan sekadar tontonan. “Ini ruang edukasi budaya bagi generasi muda. Seni adalah media pewarisan jati diri agar masyarakat tidak tercerabut dari akar budayanya,” ujarnya.

Di tengah arus modernisasi, malam budaya di Sumedang itu menjadi pengingat bahwa identitas bukan untuk dikenang semata, tetapi untuk dirawat dan dihidupkan. Sebab dari budaya, sebuah daerah menemukan arah dan dari nilai leluhur, masa depan dibangun dengan pijakan yang kokoh.***Cece Ruhiyat

Author

Tarman Suherman
Profil Tarman Suherman

PT. TRI MITRA INFONUSA

SUSUNAN KEPENGURUSAN

INFONUSA-NEWS.COM

Pendidikan, Wisata & Budaya

PEMIMPIN UMUM/PEMIMPIN REDAKSI: Iwan Sumitra, ST., S., Kom., MM. REDAKTUR PELAKSANA: Agung Kurnia Putra. BIDANG IT: Deni Akbar. BIDANG VIDEO: Wawan. STAF REDAKSI: Ilham Abdulah. WARTAWAN DAERAH: KABIRO PURWASUKASI- (PURWAKARTA-SUBANG-KARAWANG-BEKASI): Tarman Suherman, Emin Sule SUBANG: Udin Wahyudin, Tajudin, Ali Hasan. PURWAKARTA: Agus Muslim. JAKARTA: Bambang EP. BEKASI: Samsudin. BOGOR:  Abdullah DEPOK: Rani Oktaviani BANTEN: Jajat. BANDUNG: Ayi Herlambang. CIMAHI: Adre Sutisna. LEBAK: Elsa Firia. BANTEN: Jajat Munajat INDRAMAYU: Fikri Rianto. CIREBON: Bagustian. KUNINGAN: Ading Permana. MAJALENGKA. Abah Ojo. SUMEDANG: Cece Ruhiyat. TASIKMALAYA: Baden. CIAMIS: Aam. PANGANDARAN: Doni Saputra. SUKABUMI/KOTA SUKABUMI: Dadan Sundana. GARUT: Sopiyan. CIANJUR: Dede Ruhyana. KOTA BANJAR: Gugun Gunawan. TANGERANG: Reza Andika. PALEMBANG: Morry Iskandar. Alamat Redaksi: Jalan Raya By Pas Jomin Blok Semper Desa Jomin Barat Kecamatan Kotabaru Kabupaten Karawang Jawa Barat.

 

Catatan Redaksi :

Setiap Kontributor kami dalam menjalankan tugasnya di lapangan Dibekali KTA & Surat Tugas yang masih berlaku & namanya tercantum di Boxs Redaksi. Bilamana terdapat wartawan yang namanya tidak tertera dalam boxs redaksi, segala tindakan yang dilakukan adalah diluar tanggung jawab redaksi.

TTD Redaksi

 


Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Back to Top