Sumedang Bersholawat, Ikhtiar Batin Menyemai Ketenangan dan Harapan di Usia ke-448
Pemerintahan    Jumat 24 April 2026    22:22:53 WIBSUMEDANG - Di tengah gemerlap peringatan Hari Jadi ke-448 Kabupaten Sumedang, suasana Alun-alun Sumedang pada Jumat malam (24/4/2026) berubah khidmat. Ribuan warga larut dalam lantunan sholawat, menghadirkan ruang batin yang teduh di tengah perjalanan panjang daerah yang sarat sejarah dan harapan.
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menegaskan, pembangunan daerah tidak semata bertumpu pada aspek fisik dan ekonomi. Ada dimensi lain yang tak kalah penting, yakni ikhtiar batin sebagai fondasi moral dan spiritual masyarakat.
“Ikhtiar lahir sudah dilakukan, tentunya ikhtiar batin pun harus dikedepankan untuk memajukan Sumedang. Sumedang Bersholawat adalah ikhtiar batin, bagaimana Sumedang menjadi daerah yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” ujar Dony di hadapan jamaah.
Menurutnya, cita-cita tersebut bukan sekadar ungkapan simbolik, melainkan arah pembangunan yang menempatkan kesejahteraan lahir dan batin sebagai satu kesatuan. Ia menggambarkan Sumedang ideal sebagai daerah yang aman, subur, makmur, dengan masyarakat yang bersyukur serta mendapat limpahan ampunan dari Allah SWT.
Kegiatan Sumedang Bersholawat menghadirkan sejumlah tokoh agama, di antaranya Gus Aldi, pimpinan Pondok Pesantren dan Majelis Ta’lim As-Syifa wal Mahmudiyyah KH. Muhammad Muhyiddin Abdul Qodir Al-Manafi, serta Ketua Umum MUI Jawa Barat KH. Aang Abdullah Zein. Kehadiran mereka memperkuat nuansa spiritual sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dony berharap, lantunan sholawat yang menggema tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi mampu menumbuhkan ketenangan, mempererat kebersamaan, dan memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW.
“Semoga memberikan ketenangan, ketentraman, semakin dekat kepada Yang Maha Kuasa, semakin mencintai Rasulullah, dan semakin mencintai membangun Sumedang,” tuturnya.
Lebih jauh, Dony mengungkapkan visi personalnya sebagai kepala daerah yang tidak hanya bertanggung jawab di hadapan masyarakat, tetapi juga di hadapan Tuhan. Ia menyebut visinya sebagai “visi di atas visi”.
“Saya ingin membangun klaster Sumedang di surganya Allah SWT. Itulah visi terbesar kami, bagaimana mensejahterakan lahir dan batin masyarakat,” katanya.
Di usia ke-448 ini, Sumedang tidak hanya merayakan perjalanan sejarah, tetapi juga meneguhkan arah masa depan—bahwa kemajuan sejati bukan hanya soal infrastruktur, melainkan juga tentang ketenangan jiwa dan kekuatan iman warganya.***Red-Cece Ruhiyat
























