Kirab Mahkota Binokasih, Menjaga Warisan Leluhur dan Menyatukan Tatar Sunda
Pemerintahan    Minggu 26 April 2026    21:03:23 WIBSUMEDANG - Kirab Mahkota Binokasih akan menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda yang digelar pada 8–9 Mei 2026. Kegiatan ini dijadwalkan dimulai dari Sumedang, lalu berlanjut ke Ciamis, Bogor, hingga Bandung.
Perhelatan ini bukan sekadar seremoni budaya, tetapi juga momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur sebagai fondasi pembangunan di Jawa Barat.
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat atas dukungan dan kepercayaan dalam penyelenggaraan kirab tersebut. Ia menilai, momentum ini sangat istimewa karena bertepatan dengan peringatan Hari Tatar Sunda dan Hari Jadi Sumedang.
“Milangkala Tatar Sunda akan dimulai di Kabupaten Sumedang pada 8–9 Mei. Ini merupakan event yang mensinergikan antara pemerintah provinsi dan Kabupaten Sumedang,” ujar Dony, Minggu (26/4/2026).
Lebih dari sekadar agenda budaya, kirab Mahkota Binokasih menyimpan makna historis yang mendalam. Dony menjelaskan, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa wilayah Jawa Barat pernah menjadi pusat peradaban besar, mulai dari Kerajaan Padjadjaran hingga Kerajaan Sumedang Larang.
Mahkota Binokasih sendiri saat ini tersimpan di Keraton Sumedang Larang dan menjadi simbol kebesaran sekaligus warisan budaya yang tak ternilai. Nama “Binokasih” yang berarti “Sumber Kasih Sayang” mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi dalam kehidupan masyarakat Sunda.
Menurut Dony, kirab ini juga berfungsi sebagai sarana edukasi sejarah bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Ia menegaskan pentingnya memahami perjalanan masa lalu sebagai bahan refleksi untuk menatap masa depan.
“Peringatan hari jadi bukan hanya seremoni, tetapi menjadi cermin sejarah yang dapat menjadi kompas kehidupan untuk masa depan,” katanya.
Dengan semangat tersebut, Kirab Mahkota Binokasih diharapkan tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga mempererat kebersamaan masyarakat Tatar Sunda di tengah dinamika zaman.***Red Cece Ruhiyat




























