Duka di Gerbong Terakhir, Seluruh Korban Tewas Ternyata Perempuan
Peristiwa    Selasa 28 April 2026    16:38:20 WIBBekasi – Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) atas tragedi tabrakan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur resmi berakhir. Di balik selesainya misi kemanusiaan itu, tersisa fakta yang menyayat hati: seluruh korban tewas yang berhasil dievakuasi merupakan perempuan.
Kepala Basarnas, Mayjen TNI M Syafii, memastikan hal tersebut setelah tim gabungan menuntaskan penyisiran selama lebih dari 11 jam sejak insiden terjadi pada Senin malam (27/4/2026). Benturan keras dari arah belakang membuat lokomotif KA Argo Bromo Anggrek menghantam langsung gerbong khusus wanita yang berada di posisi paling belakang rangkaian KRL.
Gerbong itu menjadi titik paling parah terdampak. Badannya robek, bahkan tertembus oleh bagian lokomotif, menjadikan ruang di dalamnya nyaris tak menyisakan peluang selamat bagi para penumpang.
“Seratus persen yang kita evakuasi adalah perempuan,” ujar Syafii dengan nada tegas di lokasi kejadian, Selasa pagi. (28/04/2026).
Operasi SAR dinyatakan selesai tepat pukul 08.00 WIB. Seluruh personel yang terlibat telah ditarik kembali ke kesatuan masing-masing setelah memastikan tidak ada lagi korban utuh yang tertinggal di antara bangkai gerbong.
Meski demikian, Basarnas tetap siaga. Kemungkinan ditemukannya bagian tubuh kecil saat proses pembersihan puing oleh tim teknis PT KAI masih diantisipasi, dengan penanganan yang akan dilakukan sesuai prosedur.
Tragedi ini sendiri diduga bermula dari sebuah taksi listrik yang mogok di perlintasan, memicu rangkaian kejadian yang berujung pada tabrakan beruntun. Data akhir mencatat 14 orang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka.
Kini, fokus beralih pada pemulihan. Jalur rel yang lumpuh mulai dibersihkan demi mengembalikan operasional kereta, sementara para korban luka masih menjalani perawatan intensif di sejumlah rumah sakit di Bekasi Timur, dengan jaminan penuh dari pemerintah.
Di antara puing dan deru alat berat, duka itu masih terasa. Gerbong terakhir tak hanya menjadi saksi benturan, tetapi juga menyimpan kisah pilu para perempuan yang tak sempat pulang.***Red-Sam
























