Jerit Warga Pantura: Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki, Nyawa Jadi Taruhan
Peristiwa    Senin 02 Februari 2026    16:16:58 WIBKarawang -Deru kendaraan yang melintas di jalur Pantura Jatisari kini tak lagi hanya membawa ativitas ekonomi, tetapi juga kekhawatiran dan duka. Jalan berlubang yang membentang di wilayah Cikalong hingga Balonggandu, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang, telah lama menjadi ancaman nyata bagi keselamatan pengguna jalan, khususnya pengendara roda dua. Senin (2/2/2026), kesabaran warga akhirnya mencapai batas.
Ratusan masyarakat turun ke jalan menggelar aksi demonstrasi sebagai bentuk protes atas kondisi infrastruktur yang dinilai semakin membahayakan. Iring-iringan massa memenuhi badan jalan Pantura, membawa spanduk dan poster bertuliskan tuntutan perbaikan jalan serta seruan “Karawang Darurat Jalan Rusak”. Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat kepolisian untuk mengantisipasi kemacetan dan menjaga keamanan.

Jalur Pantura Jatisari merupakan salah satu urat nadi transportasi nasional yang setiap hari dilalui ribuan kendaraan, mulai dari sepeda motor, kendaraan pribadi, hingga angkutan berat. Namun ironisnya, kondisi jalan yang dipenuhi lubang dengan berbagai ukuran justru dibiarkan berlarut-larut. Saat hujan turun, lubang-lubang tersebut tergenang air dan sulit terlihat, menjadi jebakan mematikan bagi pengendara.
Warga menyebut, kecelakaan lalu lintas kerap terjadi, terutama pada malam hari dan saat hujan deras. Tidak sedikit korban mengalami luka berat, bahkan hingga merenggut nyawa. Kondisi ini menimbulkan trauma mendalam bagi masyarakat sekitar yang hampir setiap hari menyaksikan atau mendengar kabar kecelakaan di ruas jalan tersebut.
Salah seorang warga, Ujang (52), mengaku aksi ini dilakukan bukan untuk membuat keributan, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan bersama.
“Kami sudah terlalu sering melihat kecelakaan di sini. Hampir tiap minggu ada saja motor jatuh karena lubang. Ada yang luka parah, ada juga yang meninggal. Kami hanya minta jalan ini diperbaiki, jangan tunggu korban terus berjatuhan,” ujar Ujang dengan nada getir.
Menurutnya, laporan dan keluhan warga sudah berulang kali disampaikan, namun hingga kini belum ada perbaikan yang menyeluruh. Tambalan sementara dinilai tidak efektif karena cepat rusak kembali, terutama akibat tingginya volume kendaraan berat.
Aksi demonstrasi berlangsung secara damai. Warga berharap kehadiran mereka di jalan dapat membuka mata para pemangku kebijakan bahwa persoalan ini bukan sekadar soal infrastruktur, melainkan soal keselamatan dan hak hidup masyarakat. Mereka mendesak pemerintah daerah maupun instansi terkait agar segera mengambil langkah konkret dan tidak saling lempar tanggung jawab.
Hingga aksi berakhir, warga menegaskan akan terus mengawal tuntutan tersebut. Bagi masyarakat Jatisari, Cikalong, dan Balonggandu, perbaikan jalan bukan lagi sekadar pembangunan fisik, tetapi bentuk kehadiran negara dalam melindungi warganya.
Di tengah hiruk-pikuk jalur Pantura yang tak pernah tidur, warga hanya berharap satu hal sederhana: pulang ke rumah dengan selamat, tanpa harus mempertaruhkan nyawa di jalan yang seharusnya aman.***Reporter Mulyana




























