Curug Cigentis, Antara Alam, Sejarah, dan Jejak Spiritual yang Mengundang Pulang
Wisata    Minggu 05 April 2026    17:29:35 WIBKARAWANG - Di kaki pegunungan kawasan Mekarbuana, pesona Curug Cigentis kembali menggeliat. Selama libur Lebaran 2026, air terjun yang tersembunyi di Kecamatan Tegalwaru ini mencatat lonjakan kunjungan signifikan, menandai kebangkitan wisata alam di wilayah selatan Karawang.
Dalam kurun 16 hari, sekitar 8.000 wisatawan tercatat memadati kawasan tersebut. Angka ini melonjak tajam dibandingkan hari-hari biasa, yang rata-rata hanya dikunjungi 10 hingga 20 orang per hari. Kini, jumlah kunjungan harian bahkan menembus lebih dari 100 orang.
Marhum (55), pengelola dari Palawi (Perhutani Alam Wisata), menyebut kedekatan lokasi menjadi faktor utama meningkatnya minat wisatawan. Mayoritas pengunjung datang dari Karawang, Bekasi, hingga Purwakarta—wilayah yang relatif dekat dengan kawasan industri.
“Ini salah satu curug terdekat dari Karawang dan Bekasi, jadi banyak yang memilih ke sini,” ujarnya, Minggu (5/4).
Dengan tiket masuk Rp25 ribu, pengunjung disuguhi panorama air terjun alami, kolam jernih, serta fasilitas dasar seperti jembatan dan MCK. Meski demikian, kawasan ini belum menyediakan fasilitas penginapan, sehingga wisatawan umumnya datang untuk kunjungan harian.
Pengelolaan Curug Cigentis dilakukan secara kolaboratif oleh BUMDes Buana Mekar bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), dengan dukungan pemerintah. Upaya ini tidak hanya bertujuan mengembangkan pariwisata, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan sekitar.
Di balik keindahannya, Curug Cigentis menyimpan lapisan sejarah dan cerita yang hidup di tengah masyarakat. Nama “Cigentis” diyakini berasal dari sosok Nyai Gentis Sari, yang dipercaya sebagai penunggu kawasan tersebut.
“Nama itu sudah ada sejak tahun 70-an. Dulu masih hutan lebat, belum seperti sekarang,” kata Marhum.
Sebelum dikenal luas seperti saat ini, kawasan ini lebih dulu disebut sebagai Curug Panyipuhan. Baru pada sekitar 1997, lokasi ini mulai dibuka sebagai destinasi wisata dan ditata secara bertahap, termasuk pembangunan akses tangga bagi pengunjung.
Tak hanya soal lanskap alam, Curug Cigentis juga lekat dengan nuansa spiritual. Sejumlah pengunjung datang tidak sekadar berwisata, tetapi juga untuk berziarah atau melakukan tawasulan, terutama pada waktu-waktu tertentu seperti bulan Mulud atau malam Kliwon.
Cerita-cerita lama pun masih beredar. Sebagian warga mengisahkan pernah melihat sosok makhluk halus menyerupai peri bersayap, yang menambah aura mistis kawasan tersebut. Kisah-kisah ini, bagi sebagian orang, justru menjadi daya tarik tersendiri.
Kini, Curug Cigentis tidak hanya menjadi ruang rekreasi, tetapi juga tempat di mana alam, sejarah, dan kepercayaan berkelindan. Di tengah riuh kunjungan, satu hal yang tetap terasa adalah daya tarik yang membuat banyak orang ingin kembali seolah ada panggilan yang tak selesai dalam satu kunjungan.***Red Emn
























