Dari Storytelling hingga Debat, English Day SMK Tri Mitra Dorong Siswa Makin Percaya Diri
Pendidikan    Jumat 11 September 2026    02:20:20 WIBKARAWANG – Suasana apel pagi di SMK Tri Mitra, Kamis (10/9/2026), terasa berbeda. Jika biasanya apel diisi dengan penyampaian informasi dan pembinaan kedisiplinan, kali ini para siswa diajak lebih dekat dengan bahasa Inggris melalui kegiatan bertajuk English Day.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program kokurikuler SMK Tri Mitra yang secara khusus dirancang untuk memberikan ruang kepada siswa agar terbiasa menggunakan bahasa Inggris, sekaligus melatih keberanian mereka tampil di hadapan orang banyak.
Setiap Kamis, siswa mendapat kesempatan secara bergantian untuk tampil di depan seluruh siswa. Mereka tidak hanya dituntut mampu mengucapkan kalimat dalam bahasa Inggris, tetapi juga belajar menyampaikan gagasan, bercerita, berargumentasi hingga membangun kepercayaan diri.

Beragam bentuk penampilan disiapkan. Mulai dari singing, storytelling, speech, debate, reading poetry, hingga berbagai bentuk kegiatan lain yang memungkinkan siswa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.
Bagi sebagian siswa, berdiri di depan ratusan pasang mata tentu bukan perkara mudah. Rasa gugup, takut salah mengucapkan kata, hingga kurang percaya diri menjadi tantangan tersendiri. Namun, justru dari proses itulah keberanian mereka perlahan dibangun.
Kepala SMK Tri Mitra, Adi Fitroh Nurtalim, SE., MM, mengatakan English Day tidak semata-mata diarahkan agar siswa menguasai teori bahasa Inggris. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan menjadi sarana pembiasaan agar siswa berani menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Adi, kemampuan berbahasa Inggris akan menjadi salah satu bekal penting bagi siswa, terlebih mereka nantinya akan terjun ke dunia kerja maupun lingkungan masyarakat yang terus berkembang.

“English Day ini merupakan bagian dari kegiatan kokurikuler di SMK Tri Mitra. Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar bahasa Inggris di dalam kelas, tetapi juga memiliki keberanian untuk menggunakannya,” ujar Adi.
Ia menjelaskan, kegiatan yang dilaksanakan setiap Kamis tersebut dibuat secara bergantian sehingga seluruh siswa memiliki kesempatan untuk tampil. Materi penampilan pun dibuat beragam agar siswa tidak merasa kegiatan tersebut monoton.
Ada siswa yang memilih bernyanyi menggunakan bahasa Inggris, ada yang membawakan cerita, menyampaikan pidato, membaca puisi, hingga mengikuti debat. Dengan variasi tersebut, siswa dapat mengembangkan kemampuan sesuai dengan potensi dan minat masing-masing.
Adi menilai, keberanian tampil merupakan bagian penting dari proses pendidikan. Sebab, kemampuan akademik saja tidak selalu cukup ketika seseorang harus berhadapan dengan orang lain, menyampaikan pendapat, atau berbicara di ruang publik.
“Yang kami latih bukan hanya kemampuan bahasa Inggrisnya, tetapi juga keberanian. Anak-anak harus terbiasa tampil, berbicara, menyampaikan pendapat dan tidak takut ketika berada di depan umum,” katanya.
Ia menambahkan, kesalahan dalam pengucapan atau penggunaan bahasa selama proses pembelajaran merupakan hal yang wajar. Karena itu, siswa didorong untuk tidak menjadikan rasa takut salah sebagai alasan untuk tidak mencoba.
Menurutnya, pembiasaan yang dilakukan secara rutin akan membuat siswa semakin percaya diri. Dari yang awalnya hanya berani berbicara beberapa kalimat, diharapkan ke depan mereka mampu menyampaikan materi dengan lebih lancar dan terstruktur.
“Kalau mereka terus diberikan kesempatan, lama-lama rasa percaya dirinya akan tumbuh. Kami tidak ingin anak-anak takut salah. Yang terpenting mereka berani mencoba, kemudian dari situ kemampuan mereka kita tingkatkan,” ungkapnya.
Selain untuk kebutuhan pembelajaran di sekolah, program tersebut juga diarahkan agar kemampuan berbahasa Inggris dapat diterapkan siswa ketika berada di lingkungan masyarakat.
SMK Tri Mitra berharap siswa memiliki kemampuan komunikasi yang lebih luas dan tidak hanya bergantung pada pembelajaran formal di ruang kelas. Bahasa Inggris diharapkan menjadi keterampilan yang bisa mereka gunakan dalam berbagai situasi.
Apalagi, perkembangan dunia kerja saat ini menuntut lulusan sekolah kejuruan memiliki kemampuan yang lebih beragam. Selain keterampilan sesuai bidang keahlian, kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri juga menjadi modal penting untuk menghadapi dunia profesional.
Karena itu, English Day menjadi salah satu cara sekolah membangun kebiasaan tersebut sejak siswa masih berada di bangku sekolah.
Di sisi lain, kegiatan ini juga menghadirkan suasana belajar yang lebih cair. Siswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi bergantian mengambil peran sebagai pembicara di hadapan teman-temannya.
Bagi sekolah, setiap penampilan siswa merupakan bagian dari proses panjang pembentukan karakter. Bukan tentang siapa yang paling lancar berbicara, melainkan bagaimana setiap siswa berani melangkah ke depan, membuka suara dan menyampaikan sesuatu yang telah dipersiapkan.
Dari panggung sederhana itulah keberanian dibangun. Sedikit demi sedikit, siswa belajar mengatasi rasa gugup, mengendalikan diri dan berkomunikasi dengan lebih percaya diri.
Adi berharap program English Day dapat terus berjalan secara konsisten dan menjadi budaya positif di lingkungan SMK Tri Mitra.
“Kami ingin kegiatan ini bukan hanya menjadi acara mingguan, tetapi menjadi pembiasaan. Harapannya anak-anak terbiasa menggunakan bahasa Inggris, berani tampil, memiliki kepercayaan diri dan nantinya bisa membawa kemampuan tersebut ketika mereka berada di masyarakat maupun memasuki dunia kerja,” pungkasnya.***Red-Man























