Memahami Politik sebagai Jalan Merawat Kehidupan Bersama
Politik    Selasa 06 Januari 2026    15:14:54 WIBPurwakarta – (06/01/2026)-Politik kerap dipersepsikan sebagai sesuatu yang kotor, rumit, dan menakutkan. Padahal, pada hakikatnya politik adalah seni mengatur kehidupan bersama, mulai dari lingkup keluarga, lingkungan sosial, tempat kerja, hingga negara. Setiap aturan, keputusan, dan kebijakan publik lahir dari proses politik yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Politik, dalam makna dasarnya, bukanlah sesuatu yang dapat dihindari. Ia hanya bisa dipahami atau diabaikan. Ketika dipahami dengan benar dan dijalankan oleh orang-orang berintegritas, politik menjelma menjadi sarana melindungi yang lemah, menyeimbangkan kepentingan, serta menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat luas.
Namun sebaliknya, ketika politik berada di tangan yang keliru, ia dapat berubah menjadi alat penindasan. Tipu daya, manipulasi, dan ambisi kekuasaan sering kali dibungkus rapi atas nama kepentingan umum. Dari sinilah muncul anggapan bahwa politik identik dengan kebusukan.
Setidaknya terdapat dua alasan mengapa politik kerap digambarkan buruk di mata publik. Pertama, agar masyarakat enggan mempelajarinya. Rakyat yang tidak memahami politik akan lebih mudah diarahkan, dibohongi, bahkan dimanfaatkan sebagai alat kepentingan segelintir pihak. Kedua, realitas politik memang kerap menampilkan wajah buram ketika dikuasai oleh mereka yang miskin moral dan etika.
Kebusukan perilaku segelintir aktor politik ini kemudian digeneralisasi seolah-olah politik itu sendiri adalah sumber kejahatan. Padahal, yang rusak bukanlah ilmunya, melainkan manusianya. Politik sebagai instrumen sejatinya netral; ia bergantung pada nilai dan niat orang yang menjalankannya.
Masalah justru menjadi semakin serius ketika orang-orang baik memilih menjauh dari politik dengan alasan muak dan apatis. Kekosongan tersebut tidak pernah benar-benar kosong. Ia akan selalu diisi oleh mereka yang haus kuasa tanpa disertai nurani. Dalam kondisi inilah politik terus dipersepsikan buruk, bukan karena tidak bisa diperbaiki, melainkan karena berulang kali dibiarkan jatuh ke tangan yang salah.
Belajar ilmu politik karenanya bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan. Bukan untuk menjadikan setiap orang sebagai politisi, melainkan agar setiap warga negara mampu membaca arah kekuasaan, memahami kepentingan di balik kebijakan publik, serta tidak mudah diperalat oleh narasi yang menyesatkan.
Tanpa pemahaman politik, masyarakat akan mudah menyalahkan keadaan tanpa mengetahui akar persoalan, mudah terpecah oleh isu palsu, dan rentan menjadi korban praktik politik kotor yang bekerja secara senyap.
Kesadaran politik pada akhirnya adalah bentuk perlindungan diri sekaligus tanggung jawab sosial. Ia membantu masyarakat berpikir jernih, bersikap rasional, serta menuntut keadilan dengan cara yang bermartabat.
Politik yang sehat hanya dapat lahir dari rakyat yang sadar, bukan dari rakyat yang apatis. Jika kehidupan bersama yang adil dan manusiawi ingin diwujudkan, maka langkah awalnya sederhana namun penting: berhenti membenci politik, dan mulai memahaminya.***Ags
Oleh: Dr. H. Iwan Rasiwan.,SH. MH
(Dosen Universitas Kartamulia Purwakarta)




























