Tawa, Satire, dan Regenerasi: Teater Sado Hidupkan Refleksi Sosial Lewat 'Ada Mayat Kentut'
Hiburan    Minggu 25 Januari 2026    22:18:37 WIBKUNINGAN – Komunitas Teater Sado kembali menegaskan eksistensinya sebagai salah satu kekuatan penting seni pertunjukan Indonesia melalui pementasan lakon “Ada Mayat Kentut” di Gedung Kesenian Raksawacana, Kuningan, Sabtu (24/1/2026) malam.
Pementasan berlangsung meriah. Ratusan penonton memadati gedung dan larut dalam tawa, sekaligus diajak merenungi satire serta refleksi sosial yang tajam, namun dikemas secara ringan dan menghibur.
Sejumlah tokoh hadir menyaksikan pertunjukan tersebut, di antaranya Staf Khusus Menteri Kebudayaan RI Bidang Diplomasi dan Hubungan Luar Negeri Nissa Rengganis, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kuningan, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kuningan, serta para seniman, budayawan, akademisi, pelajar, mahasiswa, guru, dan masyarakat umum.
Ketua Komunitas Teater Sado, Edi Supardi, menyampaikan bahwa pementasan ini tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan ruang refleksi sosial yang komunikatif bagi masyarakat.
“Lewat humor dan kekonyolan di atas panggung, kami mengajak penonton bercermin pada realitas sosial tentang kekuasaan, kepentingan, dan tanggung jawab kemanusiaan,” ujar Edi.
Ia menjelaskan, lakon satu babak berdurasi sekitar 30 menit tersebut merupakan karya legendaris Aan Sugianto Mas yang pernah dipentaskan di berbagai kota di Jawa Barat dan Yogyakarta pada 2002, serta mendapat apresiasi luas. Pada pementasan kali ini, penyutradaraan dipercayakan kepada D. Ipung Kusmawi dengan penata musik Wihendar.
Pementasan “Ada Mayat Kentut” mempertemukan aktor lintas generasi Teater Sado. Tiga aktor yang terlibat 24 tahun silam—D. Ipung Kusmawi, Edi Supardi, dan Cecep Ahyani—kembali naik panggung bersama generasi baru, yakni Deni Hamzah, Moh. Khairun, dan Raka.
Selain itu, pementasan juga melibatkan aktor anak-anak sebagai bagian dari struktur dramatik pertunjukan. Kehadiran mereka menjadi penanda penting proses regenerasi sekaligus investasi masa depan Teater Sado.
“Anak-anak ini adalah benih dan harapan masa depan Teater Sado. Mereka kami libatkan agar tumbuh bersama nilai, disiplin, dan kesadaran berkesenian sejak dini,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menyampaikan apresiasinya atas konsistensi Teater Sado dalam berkarya dan perannya dalam menjaga identitas budaya daerah.
Menurutnya, pementasan tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan ruang refleksi tentang sejarah, kehidupan lokal, serta pentingnya kebudayaan sebagai fondasi pembangunan daerah.
“Sejatinya hari ini kita berada karena sejarah dan budaya masa lalu. Terima kasih kepada para seniman dan budayawan yang memiliki komitmen kuat agar Kuningan berkembang maju tanpa tercerabut dari akar sejarahnya,” ujarnya.
Bupati juga menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk terus berkolaborasi dan bersinergi dengan para seniman dan budayawan melalui berbagai agenda seni, budaya, serta ruang diskusi ke depan.
Ketua Yayasan Sado, Aan Sugianto Mas, menegaskan seluruh rangkaian acara malam itu menjadi penanda tuntasnya program publik Teater Sado yang didukung Dana Hibah Kebudayaan. Di akhir acara, penonton diajak memekikkan motto kerja Teater Sado dengan penuh semangat, “Erek-erek, moal-moal.”
Pementasan “Ada Mayat Kentut” merupakan puncak rangkaian kegiatan publik Teater Sado yang didukung Dana Hibah Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sebelum pementasan utama, digelar parade seni kolaboratif bertema “Alam: Tafsir Bunyi dan Tubuh”.
Parade seni dibuka oleh Komunitas AKAR Kuningan melalui sajian musik karimba yang mengusung pesan pelestarian hutan dan lingkungan, khususnya kawasan Gunung Ciremai. Selanjutnya, seniman mendunia Yusuf Oeblet menghadirkan lagu-puisi “Sado di Simpang Jalan” lewat permainan piano yang reflektif sebagai penghormatan kepada pendiri Teater Sado, Aan Sugianto Mas, yang wafat pada 2018.
Pentas kolaboratif berlanjut dengan penampilan Nani Dewi Sawitri, penari Topeng Losari mendunia, cucu maestro Mimi Dewi Sawitri, yang memukau penonton lewat gerak tari energik dan magis sarat nilai tradisi.
Kolaborasi seni mencapai puncaknya saat seniman tari kontemporer asal Indramayu, Iing Sayuti, tampil bersama Nita Hernawati, deklamator Teater Sado. Eksplorasi gerak tubuh yang kuat berpadu dengan pembacaan puisi-puisi karya WS Rendra, menghadirkan pengalaman artistik yang menggugah dan menggetarkan batin penonton.
Ading Permana




























