Menanti Solusi Terbaik untuk Karangligar, Relokasi Belum Jadi Pilihan Akhir
Pemerintahan    Senin 26 Januari 2026    20:22:34 WIBKARAWANG – Bupati Karawang Aep Syaepuloh menanggapi usulan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terkait relokasi warga Desa Karangligar yang selama ini kerap terdampak banjir. Aep menegaskan, relokasi belum menjadi keputusan final dan masih menunggu hasil penanganan infrastruktur pengendalian banjir yang saat ini sedang dikebut.
“Memang ada penyampaian dari Pak Gubernur soal relokasi. Tapi kita lihat dulu. Kalau ini bisa selesai melalui infrastruktur pengendalian banjir, ya sudah. Nanti kita evaluasi,” ujar Aep, Senin (26/1).
Aep mengungkapkan, Pemerintah Kabupaten Karawang terus berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum serta jajaran teknis Kementerian Pekerjaan Umum untuk memastikan langkah penanganan banjir berjalan optimal.
Ia menyebut, berdasarkan pembahasan bersama Kepala BBWS Citarum Marasi Deon Joubert dan tim teknis, proyek pengendalian banjir yang telah dirancang diyakini mampu secara signifikan meminimalisir masuknya air ke wilayah Karangligar.
“Tadi pagi saya juga bicara dengan Pak Deon, Kepala BBWS Citarum, termasuk Pak Dani selaku direktur. Mereka orang teknis, dan menyampaikan bahwa langkah ini sangat meminimalisir air yang masuk ke Karangligar,” kata Aep.
Kebut Rumah Pompa dan Pintu Air
Di sisi lain, BBWS Citarum terus mempercepat penanganan banjir di Desa Karangligar yang kerap terdampak luapan Sungai Cibeet akibat backwater.
Marasi Deon Joubert menjelaskan, hingga Januari 2026, langkah pengendalian banjir yang dilakukan meliputi normalisasi Saluran Pembuang Cidawolong dan Kedunghurang, pembangunan tanggul, serta pemasangan pompa dan pintu air guna mengurangi genangan.
Untuk Saluran Pembuang Cidawolong, kebutuhan lahan pembangunan tanggul mencapai 1,96 hektar dan rumah pompa seluas 0,87 hektar, dengan nilai kontrak sebesar Rp55,4 miliar.
Sementara di Saluran Pembuang Kedunghurang, kebutuhan lahan untuk normalisasi mencapai 1,23 hektar, pembangunan tanggul 0,12 hektar, serta rumah pompa seluas 0,66 hektar, dengan nilai kontrak Rp44,7 miliar.
Meski demikian, Deon mengingatkan masih terdapat potensi masuknya air ketika tinggi muka air Sungai Cibeet meningkat drastis. Oleh karena itu, diperlukan pembangunan tanggul di sepanjang Sungai Cibeet, baik di sisi Kabupaten Karawang maupun Kabupaten Bekasi.
“Total panjang tanggul yang dibutuhkan sekitar 11,84 kilometer dengan estimasi anggaran mencapai Rp400 miliar,” jelasnya.
Dengan kombinasi normalisasi saluran, pemasangan pintu air, dan pompa, luas genangan yang sebelumnya mencapai sekitar 160 hektar ditargetkan dapat direduksi menjadi hanya beberapa hektar.
Pembangunan infrastruktur pengendalian banjir tersebut ditargetkan rampung pada Juli hingga Agustus 2026.
“Pemasangan pintu air dan pompa ditargetkan selesai pada Juli–Agustus 2026, disertai normalisasi dan penanggulan di sejumlah ruas Saluran Pembuang Cidawolong dan Kedunghurang,” pungkas Deon.***Emn




























