Ruang Kelas Berubah Fungsi, Harapan Tetap Menyala di Tengah Longsor Bandung Barat
Pendidikan    Senin 26 Januari 2026    23:16:57 WIBCisarua, Bandung Barat - Di tengah duka dan kepanikan akibat bencana longsor yang melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, wajah lain dunia pendidikan justru tampil paling depan: kemanusiaan. Ruang-ruang kelas yang biasanya dipenuhi suara anak-anak kini berubah menjadi dapur umum dan posko bantuan, sementara proses belajar mengajar dialihkan ke sistem daring demi mendukung penanganan darurat.
Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat (KBB) resmi menghentikan sementara pembelajaran tatap muka di SD Negeri 1 Pasirlangu, SD Negeri Karyabakti, dan SD Negeri Cinta Bakti sejak Senin (26/1/2026). Ketiga sekolah tersebut berada paling dekat dengan titik longsor di Kampung Pasir Kuning dan Babakan, sehingga dinilai strategis untuk dijadikan pusat aktivitas kemanusiaan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan KBB, Asep Dendih, menegaskan bahwa keputusan ini diambil sebagai bentuk kepedulian dunia pendidikan terhadap keselamatan warga dan efektivitas penanganan bencana.
“Sekolah-sekolah yang lokasinya paling dekat dengan titik longsor saat ini kami gunakan untuk kegiatan kemanusiaan. Agar penanganan darurat berjalan maksimal, proses belajar mengajar kami alihkan sementara secara daring,” ujar Asep di lokasi bencana.
Kebijakan ini berdampak pada ratusan siswa. Di SDN Pasirlangu 1 terdapat 190 siswa dari enam rombongan belajar, SDN Karyabakti sebanyak 140 siswa dari enam rombel, dan SDN Cinta Bakti sebanyak 80 siswa dari enam rombel. Seluruh siswa kini mengikuti pembelajaran dari rumah dengan pendampingan guru secara penuh.
Asep menegaskan, meski situasi darurat, hak belajar anak tetap menjadi perhatian utama.
“Ini bukan hal baru. Saat pandemi Covid-19, sistem pembelajaran daring pernah kami jalankan dan terbukti bisa berjalan. Prinsipnya, pendidikan anak-anak tidak boleh terhenti,” katanya.
Bencana longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari itu meninggalkan luka mendalam. Sedikitnya 30 rumah tertimbun material tanah, dengan 34 kepala keluarga atau 113 jiwa terdampak langsung. Tragisnya, dua korban jiwa merupakan siswa SDN Karyabakti—sebuah kenyataan pahit yang menegaskan bahwa bencana ini bukan semata soal infrastruktur, melainkan juga menyentuh masa depan generasi muda.
Kini, kelas-kelas yang biasanya menjadi ruang belajar berubah fungsi menjadi dapur umum, posko logistik, dan pusat koordinasi bantuan. Meja belajar menjadi tempat menyiapkan makanan, papan tulis menjadi penanda distribusi logistik, dan halaman sekolah menjelma ruang harapan bagi para penyintas.
“Untuk kondisi saat ini, sekolah sangat memungkinkan digunakan sebagai pusat aktivitas kemanusiaan karena fasilitasnya cukup memadai,” ujar Asep.
Terkait durasi pembelajaran daring, Dinas Pendidikan KBB masih menunggu hasil koordinasi lanjutan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Pembukaan kembali sekolah akan bergantung pada perkembangan situasi dan aspek keselamatan.
“Keselamatan warga dan kelancaran penanganan bencana adalah prioritas utama. Setelah kondisi benar-benar aman dan stabil, sekolah akan kembali berfungsi sebagaimana mestinya,” kata Asep.
Peristiwa ini menjadi potret nyata bahwa sekolah bukan sekadar pusat pendidikan, tetapi juga simpul solidaritas sosial. Di saat bencana datang tanpa peringatan, dunia pendidikan di Bandung Barat menunjukkan wajah sejatinya: hadir, tangguh, dan berdiri di garis terdepan kemanusiaan.***Ayi Herlambang




























