Bertahan di Kolong Flyover, Warga Pamanukan Hadapi Krisis Kemanusiaan Akibat Banjir
Peristiwa    Senin 26 Januari 2026    22:37:17 WIBSUBANG -Banjir yang merendam wilayah Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, kian meluas dan menempatkan ribuan warga dalam kondisi memprihatinkan. Di Desa Mulyasari, ketinggian air dilaporkan mencapai lebih dari satu meter, membuat kawasan permukiman tak lagi layak dihuni.
Akibatnya, ratusan warga terpaksa mengungsi ke tempat-tempat darurat, mulai dari masjid hingga kolong Flyover Pamanukan. Pantauan di lokasi, Senin (26/1/2026), puluhan kepala keluarga tampak bertahan di kolong flyover hanya beralaskan tikar seadanya, tanpa fasilitas memadai.
Ironisnya, mayoritas pengungsi merupakan kelompok rentan, seperti lanjut usia, ibu-ibu, dan balita. Pemerintah Desa Mulyasari mencatat, sedikitnya 1.464 kepala keluarga terdampak banjir. Secara keseluruhan, jumlah warga terdampak banjir di Pamanukan mencapai 4.292 jiwa.
“Ratusan jiwa sudah mengungsi di dua masjid dan kolong Flyover Pamanukan,” kata Kepala Desa Mulyasari, Hasanudin Masawi.
Banjir dipicu meluapnya Sungai Cigadung dan Sungai Kalemsema akibat curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak kemarin hingga pagi hari. Ketinggian air bervariasi, mulai dari 20 sentimeter hingga mencapai 120 sentimeter di sejumlah titik.
Namun, di tengah kondisi darurat tersebut, para pengungsi mengaku belum menerima bantuan resmi dari pihak terkait. Bantuan makanan justru datang dari solidaritas masyarakat, di antaranya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pamanukan 1 serta pelajar SMA Negeri 1 Pamanukan yang membagikan nasi bungkus.
“Ini makanan dari anak-anak yang tidak masuk sekolah. Kami kemas lalu dibagikan ke pengungsi di kolong flyover,” ujar Idi, salah seorang guru SMAN 1 Pamanukan.
Minimnya bantuan membuat kondisi pengungsi semakin memprihatinkan. Bahkan, sebagian warga terpaksa meminta sumbangan di jalan, berharap uluran tangan dari para pengguna jalan yang melintas.
“Bantuan belum ada. Tadi hanya nasi bungkus, itu pun tidak semua kebagian karena pengungsi berebut,” ujar Wawan, salah seorang pengungsi.
Banjir Pamanukan kini bukan sekadar genangan air, melainkan telah menjelma menjadi krisis kemanusiaan yang menuntut perhatian dan respons cepat dari seluruh pihak terkait.**Red Ahas




























