Harapan Kembali Berdenyut di Sentra Genteng Plered Purwakarta
Ekonomi    Kamis 05 Februari 2026    07:05:48 WIBPurwakarta – Gagasan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto terkait program gentengisasi disambut dengan antusias oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sentra genteng tanah liat di Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Program tersebut dinilai mampu menjadi titik balik kebangkitan industri genteng tradisional yang selama ini kian terdesak oleh masifnya penggunaan atap berbahan baja ringan, metal, hingga beton.
Bagi para perajin genteng tanah liat di Plered, wacana gentengisasi bukan sekadar program pembangunan, melainkan harapan yang telah lama dinantikan. Selama beberapa tahun terakhir, sektor usaha genteng tradisional mengalami penurunan drastis. Dari ratusan unit usaha yang dahulu berjaya dan menjadi denyut ekonomi masyarakat setempat, kini hanya tersisa sekitar 20 UMKM yang masih bertahan dan aktif memproduksi genteng tanah liat.
Persaingan dengan produk atap modern yang dinilai lebih praktis, ringan, dan cepat pemasangannya menjadi tantangan utama. Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya keberpihakan kebijakan yang secara khusus melindungi dan memberdayakan industri genteng tradisional berbasis tanah liat, yang sejatinya ramah lingkungan dan memiliki nilai kearifan lokal.
Salah seorang pelaku UMKM genteng Plered, Diki Zulkifli Permana, mengungkapkan bahwa pernyataan Presiden Prabowo Subianto membawa angin segar bagi para perajin yang selama ini bertahan di tengah keterbatasan. Menurutnya, perhatian langsung dari kepala negara menjadi sinyal kuat bahwa negara hadir untuk UMKM, khususnya usaha tradisional yang hampir tergeser oleh industri modern berskala besar.
“Bagi kami, ini bukan sekadar wacana. Kalau program gentengisasi benar-benar direalisasikan, tentu akan membuka kembali pasar, meningkatkan produksi, dan menghidupkan lagi roda ekonomi masyarakat Plered,” ujar Diki.
Ia menambahkan, genteng tanah liat memiliki keunggulan dari sisi ketahanan, kenyamanan termal, serta lebih ramah lingkungan dibandingkan atap berbahan logam. Namun tanpa dukungan kebijakan dan keberpihakan penggunaan di proyek-proyek pemerintah, produk lokal kerap kalah bersaing.
Harapan serupa juga disampaikan para perajin lain. Mereka menilai, jika program gentengisasi diterapkan pada pembangunan perumahan rakyat, fasilitas publik, hingga proyek pemerintah daerah, maka akan tercipta efek domino yang signifikan. Tidak hanya meningkatkan permintaan genteng, tetapi juga membuka lapangan kerja, menghidupkan kembali tungku-tungku pembakaran, serta menjaga warisan industri rakyat yang telah puluhan tahun menjadi identitas Plered.
Para pelaku UMKM berharap, gagasan Presiden Prabowo Subianto dapat segera ditindaklanjuti dengan kebijakan konkret, mulai dari regulasi, bantuan permodalan, hingga jaminan pasar. Dengan demikian, genteng tanah liat tidak hanya menjadi simbol masa lalu, tetapi kembali menjadi bagian penting dari pembangunan nasional yang berkelanjutan dan berpihak pada rakyat kecil.
Di tengah tantangan zaman dan arus modernisasi, sentra genteng Plered kini menaruh harapan besar pada satu hal: keberpihakan negara untuk menghidupkan kembali usaha rakyat yang nyaris padam, agar tetap berdiri kokoh, seperti genteng tanah liat yang melindungi rumah-rumah dari panas dan hujan.***M. Ags




























