Bahasa Ibu di Panggung Anak Negeri: Harapan dari Banyusari untuk Jaga Warisan Budaya
Pendidikan    Kamis 30 April 2026    19:33:58 WIBKARAWANG - Di halaman SD Negeri Cicinde Utara 1, suara pupuh, dongeng, hingga tawa monolog anak-anak menggema. Bukan sekadar perlombaan, Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kecamatan Banyusari, Kamis (30/4/2026), menjadi ruang tumbuh bagi harapan: menjaga bahasa Sunda tetap hidup di tengah arus zaman yang terus berubah.
Kegiatan yang digagas Kelompok Kerja Guru (KKG) Bahasa Sunda Korwil Cambidik Banyusari ini mempertemukan para pemangku kepentingan pendidikan. Dari pengawas sekolah hingga kepala sekolah, semua hadir dengan satu tujuan—memastikan bahasa ibu tidak kehilangan tempat di hati generasi muda.
Tujuh cabang lomba digelar, mulai dari nembang pupuh, ngadongeng, maca sajak, biantara, hingga menulis aksara Sunda. Ada pula carpon dan ngabodor sorangan yang menghadirkan sisi kreatif sekaligus menghibur. Ragam lomba ini bukan sekadar kompetisi, melainkan cara memperkenalkan bahasa Sunda secara hidup dan menyenangkan.
Ketua panitia, Adah Kurniawati, menyebut pelaksanaan FTBI berjalan lancar berkat dukungan banyak pihak. Ia berharap para peserta dari Banyusari mampu melangkah lebih jauh hingga tingkat kabupaten, bahkan provinsi.
Lebih dari itu, FTBI menjadi pintu seleksi sekaligus cermin pembinaan bahasa daerah. Mereka yang tampil bukan hanya berkompetisi, tetapi membawa identitas budaya yang ingin terus dijaga.
Korwil Cambidik Banyusari, Sri Rahayu Suciati, menegaskan pentingnya bahasa ibu sebagai akar jati diri. Menurutnya, FTBI adalah pengingat bahwa di tengah derasnya pengaruh global, bahasa daerah tetap memiliki peran strategis dalam pendidikan.
“Bahasa ibu adalah identitas. Anak-anak harus mengenalnya, memakainya, dan mencintainya,” ujarnya.
Ia juga menyinggung realitas bahwa tidak semua siswa berasal dari latar belakang penutur asli Sunda. Namun justru di situlah pendidikan memainkan peran penting—menjembatani perbedaan, sekaligus menumbuhkan kecintaan.
Di sisi lain, festival ini mengajarkan lebih dari sekadar kemampuan berbahasa. Keberanian tampil, sportivitas, hingga ketekunan menjadi nilai yang ditanamkan. Menang atau kalah bukan tujuan utama, melainkan proses belajar yang membentuk karakter.
Pesan itu terasa relevan di tengah dunia pendidikan yang kerap menitikberatkan hasil. FTBI hadir sebagai penyeimbang—mengajarkan bahwa proses adalah bagian penting dari keberhasilan.
Namun, tantangan pelestarian bahasa daerah tidak kecil. Dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing di era digital semakin kuat, terutama di kalangan generasi muda. Tanpa upaya nyata, bahasa daerah bisa perlahan tersisih.
Karena itu, FTBI menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Ia adalah bagian dari strategi menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan relevan. Peran guru dan sekolah menjadi kunci, memastikan pembelajaran bahasa Sunda tidak hanya teoritis, tetapi juga membumi dan menyenangkan.
Para pemenang dari Banyusari nantinya akan melaju ke tingkat Kabupaten Karawang. Dari sana, peluang terbuka hingga tingkat Provinsi Jawa Barat. Skema berjenjang ini memberi motivasi sekaligus menjadi tolok ukur kualitas pembinaan di tiap wilayah.
Di tengah globalisasi yang tak terbendung, Banyusari memberi pesan sederhana namun kuat: bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas yang harus dijaga.
Dan dari suara-suara anak di panggung kecil itu, harapan besar terus disuarakan—bahwa bahasa Sunda akan tetap hidup, diwariskan, dan dicintai, dari generasi ke generasi.***Red-Man




























