Tangis Warga Mayangan untuk Mangrove Pondok Bali: Saat Alam Digerus, Harapan Ikut Terkikis
Wisata    Minggu 03 Mei 2026    18:07:19 WIBSubang - Riuh media sosial membawa kabar yang mengusik nurani. Kawasan mangrove di Pantai Pondok Bali, yang selama ini menjadi benteng alami pesisir sekaligus sumber kehidupan warga, tampak digerus alat berat. Menanggapi hal itu, Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita, turun langsung ke lokasi pada Sabtu (2/5/2026).
Kehadiran orang nomor satu di Subang yang akrab disapa Kang Rey itu bukan sekadar respons atas viralnya video, melainkan bagian dari agenda monitoring aset daerah di kawasan wisata Pondok Bali—wilayah yang selama ini dikenal memiliki potensi ekonomi besar dan menjadi salah satu penopang Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Di tengah peninjauan, suara kegelisahan warga pun mengemuka. Kepala Desa Mayangan, Darto, menyampaikan apresiasinya atas respons cepat pemerintah daerah. Namun di balik itu, tersimpan rasa sedih yang mendalam melihat kondisi mangrove yang mulai hilang.
Menurutnya, video yang beredar memperlihatkan aktivitas alih fungsi lahan menjadi kolam pemancingan ikan. Ia menduga, aktivitas tersebut menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya hutan mangrove, meskipun berada di atas lahan milik pribadi dengan status SHM.
“Disayangkan sekali, karena masyarakat Desa Mayangan sudah cinta mangrove. Saya sangat sedih melihatnya, meski itu berada di tanah milik pribadi,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Kang Rey menegaskan bahwa keberadaan mangrove tidak bisa dipandang sebelah mata. Ekosistem ini memiliki peran vital, mulai dari menghasilkan serasah yang menjadi sumber hara hingga menjadi habitat alami bagi berbagai biota laut.
“Kita ingin mengembalikan tatanan awal. Alam dan lingkungan di sini harus dijaga. Jangan sampai ada alih fungsi lahan yang justru merusak ekosistem,” tegasnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kerusakan mangrove berpotensi memperparah ancaman banjir rob yang sudah mulai dirasakan masyarakat pesisir.
“Tanpa dirusak pun, rob sudah mengkhawatirkan. Apalagi jika mangrove ikut tergusur,” tambahnya.
Kang Rey menegaskan komitmennya untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Menurutnya, arah kebijakan ke depan harus berpijak pada ketahanan daerah berbasis ekologi, tanpa mengabaikan kebutuhan masyarakat.
“Pembangunan harus berjalan, tapi ekosistem juga harus tetap dijaga. Kita harus seimbang,” pungkasnya.
Di tengah geliat pembangunan dan kepentingan ekonomi, kisah mangrove Pondok Bali menjadi pengingat: bahwa ketika alam mulai terluka, yang ikut terancam bukan hanya lingkungan, tetapi juga masa depan masyarakat yang menggantungkan hidup padanya.***Red-Ahas
























