Dari Bubur Merah Putih hingga Jejak Sejarah, Rengasdengklok Menjaga Tiga Akar Identitas
Daerah    Senin 04 Mei 2026    17:00:43 WIBKarawang - Di tengah perubahan zaman yang kian cepat, masyarakat Rengasdengklok memilih tetap berdiri tegak pada akar yang mereka yakini: budaya, agama, dan kebangsaan. Hal itu tercermin dalam gelaran Hajat Bumi Babarit ke-7 yang bukan sekadar tradisi, melainkan ruang perjumpaan nilai-nilai yang membentuk jati diri bersama.
Di lokasi yang sarat sejarah itu, semangat kebangsaan berpadu dengan religiusitas dan kearifan lokal. Tradisi bubur merah putih—bubur beureum jeung bubur bodas—hadir bukan hanya sebagai hidangan, tetapi sebagai simbol yang hidup. Merah dimaknai sebagai keberanian, putih sebagai kesucian, dua nilai yang menurut masyarakat setempat telah lama mengakar, jauh sebelum Indonesia merdeka.
Edo, pengurus Forum Komunikasi Budaya Rengasdengklok, menyebut simbol itu bukan sekadar warisan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. “Ini bukan hal baru bagi urang Sunda. Filosofinya sudah lama hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan sebagian warga, babarit justru menjadi ruang penguatan batin. Tradisi ini menghadirkan kebersamaan, doa, dan refleksi—sesuatu yang dinilai semakin penting di masa sulit. Bagi warga, berkumpul bukan hanya untuk berbagi makanan, tetapi juga menguatkan harapan.
Ketua Forum Komunikasi Budaya Rengasdengklok, Daday, mengingatkan bahwa wilayah ini bukan sekadar tempat berlangsungnya tradisi, tetapi juga saksi penting perjalanan bangsa. Ia menafsirkan peristiwa dibawanya Soekarno ke Rengasdengklok sebagai bentuk “hijrah”, bukan sekadar penculikan, sebuah peristiwa yang sarat makna perjuangan dan perubahan.
“Rengasdengklok adalah titik penting lahirnya republik. Di sini, sejarah dan spiritualitas bertemu,” katanya.
Dari sisi pemerintah daerah, apresiasi datang atas konsistensi masyarakat menjaga tradisi. Hajat Bumi dinilai tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan identitas kolektif warga.
Dalam satu panggung, simbol negara berdampingan dengan lantunan sholawat dan pertunjukan seni tradisional. Tak ada yang saling meniadakan. Justru dari keberagaman itu, muncul harmoni yang menjadi kekuatan.
Bagi masyarakat Rengasdengklok, identitas bukan sesuatu yang terpisah-pisah. Sunda adalah akar, Islam adalah nilai, dan Indonesia adalah rumah. Ketiganya menyatu dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah modernisasi yang kerap menggerus tradisi, Rengasdengklok menunjukkan sikap berbeda: merawat, bukan meninggalkan. Sebab bagi mereka, masa depan justru bertumpu pada seberapa kuat akar itu dijaga.***Red-Emn




























