Dari Babarit ke-7, Rengasdengklok Menjaga Ingatan dan Harapan
Daerah    Senin 04 Mei 2026    16:51:56 WIBKarawang - Suasana khidmat menyelimuti kawasan Tugu Proklamasi Rengasdengklok, Senin (4/5/2026), saat Ketua Forum Komunikasi Budaya Rengasdengklok, Daday, menyampaikan pidato yang memadukan nuansa religius dan refleksi sejarah dalam gelaran babarit ke-7.
Di hadapan aparat kepolisian, tokoh masyarakat, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta warga, Daday membuka sambutan dengan ungkapan syukur. Ia mengaitkan angka tujuh dengan simbol tujuh lapis langit dan bumi—sebuah harapan agar doa-doa masyarakat yang hadir mendapat jalan untuk dikabulkan.
“Ini adalah babarit yang ke-7. Semoga menjadi jalan untuk mendapat ridho Allah dan cita-cita kita semua bisa tercapai,” ujarnya.
Kegiatan yang digelar secara swadaya ini, menurut Daday, menjadi cerminan kuatnya gotong royong masyarakat. Ia secara khusus mengapresiasi kontribusi warga Bojong Tugu 1 dan Bojong Tugu 2 yang turut menopang terselenggaranya acara.
Lebih dari sekadar seremoni, babarit dinilai sebagai ruang untuk merawat identitas budaya. Daday menekankan pentingnya menjaga dan mengangkat potensi lokal Rengasdengklok melalui persatuan lintas komunitas seni dan budaya.
“Kita tidak boleh kalah. Budaya yang ada di Rengasdengklok harus kita angkat bersama. Semua komunitas harus bersatu,” tegasnya.
Dalam bagian pidato yang paling menyita perhatian, Daday menyampaikan pandangan berbeda terkait peristiwa menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Ia menolak penggunaan istilah “penculikan” terhadap Soekarno oleh para pemuda, dan memilih istilah “hijrah” untuk menggambarkan peristiwa tersebut.
“Bung Karno bukan diculik atau diasingkan. Tapi dihijrahkan oleh Allah ke Rengasdengklok,” katanya.
Ia bahkan membandingkan peristiwa itu dengan hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah, sebagai upaya memberi dimensi spiritual dalam memahami sejarah nasional. Bagi Daday, Rengasdengklok bukan hanya lokasi historis, tetapi juga ruang yang sarat nilai kesucian dan keyakinan.
“Rengasdengklok ini kota sejarah. Tonggak sejarah Republik Indonesia ada di sini. Sejarah tidak bisa dibohongi,” lanjutnya.
Pandangan tersebut membuka ruang diskusi publik, terutama dalam melihat bagaimana pendekatan religius dapat berdampingan dengan narasi sejarah yang selama ini dikenal secara akademik.
Menutup sambutannya, Daday berharap kegiatan budaya ke depan dapat semakin inklusif dan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat.
“Semoga semua yang hadir hari ini, doa-doanya dikabulkan. Apa yang kita cita-citakan bisa terlaksana tahun ini,” tutupnya.
Babarit ke-7 ini menegaskan bahwa Rengasdengklok bukan sekadar titik dalam buku sejarah, melainkan ruang hidup yang terus merawat ingatan kolektif di mana budaya, spiritualitas, dan kebersamaan tumbuh berdampingan.***Red-Yan

























