Habbina
Festival 7 Sungai 2026, Merawat Sungai dengan Budaya, Menjaga Masa Depan Bumi
0 Komentar 136 pembaca

Festival 7 Sungai 2026, Merawat Sungai dengan Budaya, Menjaga Masa Depan Bumi

Daerah

SUBANG – Derasnya arus modernisasi tidak menyurutkan semangat masyarakat untuk kembali merawat sungai sebagai sumber kehidupan. Semangat itulah yang dihidupkan dalam Festival 7 Sungai 2026 yang berlangsung  di Kabupaten Subang. Mengusung tema "Riksa Cai Raksa Jagat" (Menjaga Air, Merawat Bumi), festival ini menjadi ruang perjumpaan antara budaya, lingkungan, ilmu pengetahuan, dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian alam.
Festival tersebut tidak sekadar menghadirkan hiburan budaya, tetapi menjadi gerakan kolektif yang mengajak masyarakat memaknai kembali sungai sebagai nadi kehidupan sekaligus rahim peradaban. Di tengah berbagai tantangan kerusakan lingkungan, Festival 7 Sungai hadir sebagai pengingat bahwa keberlangsungan hidup manusia sangat bergantung pada terjaganya sumber-sumber air.
Kurator Festival 7 Sungai 2026, Daming Agus Hidayat, menjelaskan bahwa sejak zaman dahulu peradaban tumbuh dan berkembang di sepanjang aliran sungai. Bagi masyarakat Sunda, air bukan hanya kebutuhan dasar, melainkan memiliki makna spiritual, sosial, hingga budaya yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
"Festival ini mengajak masyarakat untuk kembali melihat sungai bukan sebagai objek eksploitasi atau tempat pembuangan limbah, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga dan dihormati," ujarnya.
Tema Riksa Cai Raksa Jagat menjadi pesan utama bahwa menjaga air sama artinya dengan menjaga keseimbangan kehidupan. Ketika mata air, sungai, dan ekosistemnya tetap lestari, maka keberlangsungan alam beserta kehidupan manusia akan tetap terjaga.
Untuk menerjemahkan semangat tersebut, Festival 7 Sungai 2026 menghadirkan lima pilar utama yang disusun layaknya perjalanan aliran sungai dari hulu hingga hilir. Pilar pertama adalah Syukur Sungai, sebuah ritual budaya sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah air yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Selanjutnya terdapat Saresehan Sungai, forum dialog yang mempertemukan budayawan, akademisi, pegiat lingkungan, hingga para pemangku kebijakan. Dari forum tersebut diharapkan lahir Piagam 7 Sungai, sebagai rekomendasi bersama dalam upaya pelestarian sungai yang dapat diwujudkan setelah festival berakhir.
Komitmen membangun generasi peduli lingkungan juga diwujudkan melalui Kemah Budaya, yang menjadi ruang belajar bagi anak muda untuk memahami pentingnya hidup selaras dengan alam. Kegiatan ini sekaligus menjadi wadah membangun jejaring pegiat budaya dan lingkungan agar gerakan pelestarian terus berlanjut.
Festival semakin semarak dengan beragam pertunjukan budaya khas Sunda yang menggambarkan eratnya hubungan manusia dengan sungai sejak masa lampau. Mulai dari teatrikal budaya sungai, permainan tradisional, pertunjukan kuda renggong, hingga atraksi Ngagogo, Tataheunan, Papancakan, dan Papalidan yang sarat nilai sejarah dan filosofi kehidupan masyarakat agraris.
Tak hanya mengangkat tradisi, Festival 7 Sungai juga menghadirkan Pameran Masyarakat Sungai yang menampilkan kekayaan biodiversitas ikan lokal lengkap dengan informasi ilmiahnya. Pameran ini menjadi jembatan antara kearifan lokal dan pendekatan etno-sains sehingga masyarakat semakin mengenal, mencintai, dan terdorong menjaga keanekaragaman hayati sungai.
Melalui Festival 7 Sungai 2026, Kabupaten Subang kembali menegaskan komitmennya menjadikan kebudayaan sebagai motor penggerak pelestarian lingkungan. Festival ini bukan sekadar panggung seni, melainkan ruang edukasi, kolaborasi, dan refleksi bersama bahwa menjaga sungai berarti menjaga masa depan kehidupan.
Dengan memadukan nilai budaya, pendidikan lingkungan, dan pendekatan ilmiah, Festival 7 Sungai diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi berbagai daerah dalam membangun gerakan pelestarian sungai yang berkelanjutan. Semangat Riksa Cai Raksa Jagat pun diharapkan terus mengalir, sebagaimana aliran sungai yang menjadi denyut kehidupan masyarakat dari hulu hingga hilir.***Red-Ahas

Author

Tarman Suherman
Profil Tarman Suherman

PT. TRI MITRA INFONUSA

SUSUNAN KEPENGURUSAN

INFONUSA-NEWS.COM

Pendidikan, Wisata & Budaya

PEMIMPIN UMUM/PEMIMPIN REDAKSI: Iwan Sumitra, ST., S., Kom., MM. REDAKTUR PELAKSANA: Agung Kurnia Putra. BIDANG IT: Deni Akbar. BIDANG VIDEO: Wawan. STAF REDAKSI: Ilham Abdulah. WARTAWAN DAERAH: KABIRO PURWASUKASI- (PURWAKARTA-SUBANG-KARAWANG-BEKASI): Tarman Suherman, Emin Sule, Suryana SUBANG: Udin Wahyudin, Tajudin, Ali Hasan. PURWAKARTA: Agus Muslim. JAKARTA: Bambang EP. BEKASI: Samsudin. BOGOR:  Abdullah DEPOK: Rani Oktaviani BANTEN: Jajat. BANDUNG: Ayi Herlambang. CIMAHI: Adre Sutisna. LEBAK: Elsa Firia. BANTEN: Jajat Munajat INDRAMAYU: Fikri Rianto. CIREBON: Bagustian. KUNINGAN: Ading Permana. MAJALENGKA. Abah Ojo. SUMEDANG: Cece Ruhiyat. TASIKMALAYA: Baden. CIAMIS: Aam. PANGANDARAN: Doni Saputra. SUKABUMI/KOTA SUKABUMI: Dadan Sundana. GARUT: Sopiyan. CIANJUR: Dede Ruhyana. KOTA BANJAR: Gugun Gunawan. TANGGERANG: Reza Andika. PALEMBANG: Morry Iskandar. Alamat Redaksi: Jalan Raya By Pas Jomin Blok Semper Desa Jomin Barat Kecamatan Kotabaru Kabupaten Karawang Jawa Barat.

 

Catatan Redaksi :

Setiap Kontributor kami dalam menjalankan tugasnya di lapangan Dibekali KTA & Surat Tugas yang masih berlaku & namanya tercantum di Boxs Redaksi. Bilamana terdapat wartawan yang namanya tidak tertera dalam boxs redaksi, segala tindakan yang dilakukan adalah diluar tanggung jawab redaksi.

TTD Redaksi

 

 

 


Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Back to Top