Jerami Tak Lagi Dibakar, Petani Jatisari Didorong Manfaatkan Limbah Panen untuk Pupuk hingga Media Jamur
Pemerintahan    Rabu 02 September 2026    16:08:35 WIB
Mesin baler menjadi salah satu teknologi yang diperkenalkan kepada petani untuk mempermudah proses pengelolaan jerami setelah panen. Alat tersebut bekerja mengumpulkan jerami yang berserakan di lahan, kemudian memadatkan dan mengikatnya menjadi bentuk yang lebih mudah diangkut.Dengan cara tersebut, petani tidak lagi harus membakar jerami di lahan. Jerami yang sebelumnya dianggap sebagai limbah justru dapat dikumpulkan, diangkut dan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.Dalam kegiatan tersebut, para petani diperlihatkan secara langsung bagaimana mesin baler mengambil jerami dari lahan, mengumpulkannya hingga mengikatnya. Setelah berbentuk ikatan, jerami menjadi lebih mudah dipindahkan menggunakan kendaraan menuju tempat pemanfaatan.
Kunjungan UMS Kasi TEM ke Karawang juga menjadi bagian dari upaya melihat langsung berbagai peralatan yang dapat digerakkan untuk mendukung pemanfaatan jerami dan mendorong perubahan kebiasaan petani setelah panen.Menurutnya, mesin baler memiliki fungsi penting karena dapat membantu mengambil jerami dari lahan, kemudian mengumpulkan dan mengikatnya. Kondisi tersebut membuat petani lebih mudah dalam proses pengangkutan."Jadi jerami diambil dari lahan, kemudian dikumpulkan dan diikat. Dengan begitu para petani lebih mudah mengambil jerami di lahan, tinggal ditransportasikan untuk kemudian dimanfaatkan," ujarnya.Jerami yang telah dikumpulkan itu tidak harus berakhir sebagai limbah. Bahan tersebut dapat dimanfaatkan antara lain sebagai media budidaya jamur, pupuk organik maupun pakan ternak.Pemanfaatan jerami juga dinilai membuka peluang agar sisa hasil panen memiliki nilai tambah. Dengan demikian, kegiatan pertanian tidak hanya berhenti pada produksi gabah, tetapi juga dapat menghasilkan manfaat lanjutan dari sisa tanaman yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai ekonomi.UPTD Pertanian menyambut baik kegiatan tersebut. Selain membantu memperkenalkan teknologi kepada petani, gerakan ini dinilai sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Karawang dalam mendorong pengelolaan jerami tanpa pembakaran."Ini tentunya kami sambut baik karena selaras dengan Surat Edaran Bapak Bupati Karawang Nomor 1392 Tahun 2026 tentang gerakan tidak membakar jerami dan pengembalian jerami ke lahan sawah," kata perwakilan UPTD Pertanian.Menurutnya, apa yang mulai dilakukan di tingkat petani tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk mengubah pola pengelolaan jerami. Jerami tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus segera dibakar setelah panen, melainkan sebagai bahan yang masih dapat dimanfaatkan."Jerami ini tidak dibakar, tetapi dimanfaatkan menjadi media tanam jamur. Bisa juga menjadi pupuk organik dan pakan ternak. Ini tentunya menjadi nilai tambah bagi para petani," katanya.Ia menambahkan, edukasi mengenai pemanfaatan jerami tidak cukup dilakukan dalam satu kegiatan. Karena itu, UPTD Pertanian akan menindaklanjuti kegiatan tersebut dengan menyebarluaskan informasi kepada para petani di wilayahnya.Langkah tersebut diharapkan dapat perlahan mengubah kebiasaan yang selama ini sudah berlangsung di sejumlah wilayah persawahan, yakni membakar jerami setelah proses panen selesai.Kebiasaan membakar jerami memang dianggap praktis karena lahan menjadi cepat bersih dan siap kembali diolah. Namun, melalui pengelolaan yang tepat, jerami sebenarnya masih memiliki manfaat yang jauh lebih besar.Selain dapat digunakan sebagai bahan organik, jerami juga dapat dikembalikan ke lahan sawah untuk membantu menjaga kesuburan tanah. Sebagian lainnya dapat dikumpulkan untuk kebutuhan usaha lain, seperti media budidaya jamur atau pakan ternak.Penggunaan mesin baler menjadi salah satu jawaban atas persoalan teknis yang selama ini dihadapi petani. Salah satu kendalanya adalah proses mengumpulkan jerami secara manual membutuhkan waktu dan tenaga cukup besar.Dengan mesin tersebut, proses pengumpulan menjadi lebih cepat dan praktis. Jerami yang sudah diikat juga lebih mudah dipindahkan dari areal persawahan.Bagi petani, perubahan sederhana dalam memperlakukan jerami tersebut berpotensi memberikan dampak lebih luas. Sisa tanaman yang sebelumnya dibakar dan habis begitu saja kini dapat dikumpulkan untuk dimanfaatkan kembali.Gerakan ini pada akhirnya bukan hanya berbicara mengenai larangan membakar jerami, tetapi juga bagaimana menyediakan pilihan yang lebih mudah dan bermanfaat bagi petani.Ketika teknologi tersedia dan petani mendapatkan pemahaman mengenai manfaat jerami, sisa hasil panen tersebut dapat berubah dari limbah menjadi sumber bahan baku yang bernilai.Pemerintah bersama unsur pertanian pun berharap praktik penggunaan mesin baler dan pemanfaatan jerami dapat terus diperluas. Para petani diharapkan mulai meninggalkan kebiasaan membakar jerami dan beralih pada pola pengelolaan yang lebih produktif.Dari lahan sawah di Jatisari, pesan yang ingin dibangun cukup sederhana: jerami tidak harus dibakar. Jika dikumpulkan dan dikelola dengan baik, sisa panen itu masih bisa kembali memberi manfaat bagi tanah, petani, bahkan menjadi sumber nilai ekonomi baru.***Red-Ider Jagat























