Nyimas Lenggangherang Jilid 5, Saat Warga Suganangan Merawat Tradisi Lewat Budaya dan Kebersamaan
Pemerintahan    Jumat 11 September 2026    00:59:34 WIBKUNINGAN – Tradisi tidak selalu harus tinggal sebagai kenangan masa lalu. Di Desa Suganangan, Kecamatan Cipicung, Kabupaten Kuningan, budaya justru terus dihidupkan dan dirayakan bersama warga melalui gelaran tahunan Nyimas Lenggangherang.
Memasuki penyelenggaraan yang kelima, Nyimas Lenggangherang kembali hadir dengan tajuk “Nyimas Lenggangherang Jilid 5: Sport n’ Ethno Carnaval”. Kegiatan tersebut resmi dibuka pada Kamis (10/9/2026) di Stadion Rana Diraksa.

Mengusung subtema “Lebih Klasik, Lebih Spektakuler”, perhelatan tahun ini tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan seni dan budaya. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat kearifan lokal, mempererat kebersamaan, sekaligus membangun semangat hidup sehat dan religius.
Beragam kegiatan disiapkan untuk memeriahkan gelaran tersebut. Mulai dari karnaval kolosal, jalan santai, Senam Kuningan Melesat, hingga tabligh akbar menjadi bagian dari rangkaian acara yang melibatkan masyarakat.
Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., memberikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Suganangan dan seluruh panitia yang mampu mempertahankan gelaran tersebut hingga memasuki tahun kelima.
Menurut Dian, konsistensi masyarakat dalam menyelenggarakan Nyimas Lenggangherang menjadi bukti bahwa tradisi dan budaya lokal masih memiliki tempat penting di tengah perubahan zaman.
Ia menilai, masyarakat Suganangan telah menunjukkan bahwa seni dan budaya Sunda dapat terus berkembang tanpa harus kehilangan akar dan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.
“Sesuai subtema yang diusung, kegiatan hari ini membuktikan bahwa budaya tradisional Sunda tidak pernah redup oleh zaman,” ujar Dian saat membuka kegiatan di Desa Suganangan, Kamis (10/9).
Bagi Dian, tradisi syukuran panen dan berbagai gelaran budaya di tatar Pasundan juga memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar seremoni tahunan.
Ia mengutip pesan bijak Sunda, “Sedekah panen lain ngan ukur tradisi, ieu téh pangéling-ngéling kana silih tulungan, silih ajenan, jeung silih bagikeun.”
Pesan tersebut, kata dia, menjadi pengingat bahwa setiap tradisi yang dirawat masyarakat sejatinya mengandung nilai kebersamaan.
“Pesan ini mengingatkan kita bahwa esensi dari setiap syukuran dan gelaran budaya adalah merawat kebersamaan. Budaya jangan hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu untuk ditonton, tetapi pegangan hidup untuk dijalani,” tuturnya.
Ia menambahkan, nilai silih asih, silih asah, dan silih asuh harus terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Nilai-nilai tersebut dinilai penting untuk membangun Kuningan yang semakin maju, namun tetap memiliki identitas dan tidak tercerabut dari akar sejarahnya.
Dian berharap Nyimas Lenggangherang Jilid 5 tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata. Gelaran tersebut diharapkan mampu menjadi momentum untuk memperkuat gotong royong, mempererat silaturahmi, sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya potensi ekonomi dan pariwisata masyarakat.
Dengan demikian, ketika musik tradisional, karnaval, olahraga dan kegiatan keagamaan berpadu dalam satu perhelatan, yang dirayakan warga Suganangan bukan hanya sebuah festival. Di dalamnya ada upaya sederhana untuk menjaga tradisi tetap hidup, sekaligus mewariskan nilai kebersamaan kepada generasi berikutnya.***Ading Permana























