Janji di Atas Jembatan: Warga Cigebang Menunggu Kepastian dari Kang Dedi
Pemerintahan    Senin 19 Januari 2026    12:56:16 WIBSUBANG - Janji yang pernah diucapkan di hadapan warga kini kembali ditagih. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, akhirnya merespons unggahan viral di media sosial yang menyoroti rusaknya jembatan penghubung di Kampung Cigebang, Desa Talagasari, Kecamatan Serang Panjang, Kabupaten Subang.
Unggahan tersebut datang dari seorang warga melalui akun TikTok @niaanggraeni.nia8. Video itu memperlihatkan kondisi jembatan Cigebang yang kian memprihatinkan—lantai berlubang, struktur rapuh, dan membahayakan keselamatan warga yang setiap hari melintas.
Jembatan itu bukan sekadar infrastruktur biasa. Delapan bulan lalu, saat berkunjung langsung ke lokasi, Dedi Mulyadi menyebut kondisi jembatan sebagai sesuatu yang “mempermalukan dirinya”. Di hadapan warga, ia berjanji akan membangun jembatan gantung yang lebih layak dan aman. Janji tersebut kala itu disambut sorak dan harapan.
Namun waktu berjalan, dan realitas berkata lain.
“Sekarang jembatannya sudah sangat tidak layak pakai,” ujar warga dalam video yang dikutip Senin (19/1/2026). Ia menyebut, jembatan Cigebang kerap memakan korban. Pengendara sepeda motor beberapa kali terperosok, sementara anak-anak dan lansia dilaporkan pernah jatuh ke sungai akibat kondisi jembatan yang semakin rusak.
Kekecewaan warga pun mencuat. “Sudah delapan bulan sejak janji itu disampaikan, tapi belum ada perbaikan sama sekali. Bagaimana ini warga Jabar? Akankah Kang Dedi menepati janjinya?” ucap warga dengan nada getir.
Video tersebut cepat menyebar dan menuai beragam reaksi warganet. Nama Dedi Mulyadi kembali menjadi sorotan, di tengah meningkatnya keberanian warga menyuarakan keluhan soal infrastruktur melalui media sosial.
Menanggapi kritik itu, Dedi Mulyadi akhirnya memberikan penjelasan. Ia menegaskan bahwa proyek jembatan Cigebang bukan sekadar perbaikan ringan, melainkan pembangunan baru yang membutuhkan proses administratif.
“Kami menunggu proses lelang untuk dikerjakan oleh penyedia jasa,” kata Dedi Mulyadi.
Penjelasan tersebut tak sepenuhnya meredam kegelisahan publik. Sebagian warga memilih bersabar dan memahami prosedur pemerintahan, sementara yang lain mendesak agar aspek keselamatan warga menjadi prioritas utama, sembari menunggu proses formal berjalan.
Kini, jembatan Cigebang menjadi simbol penantian. Bukan hanya soal beton dan besi, tetapi tentang harapan warga desa terhadap janji seorang pemimpin—apakah akan ditepati, atau kembali menjadi bagian dari daftar panjang komitmen yang tertunda.***Red Ah




























