Cipamingkis Meluap di Jonggol, Warga Hilir Diminta Waspada Banjir Kiriman
Peristiwa    Jumat 23 Januari 2026    19:19:24 WIBBOGOR – Suasana tegang menyelimuti kawasan sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Cipamingkis, Cibeet, hingga Citarum. Warga yang bermukim di bantaran sungai diminta meningkatkan kewaspadaan, menyusul laporan meningkatnya debit air Sungai Cipamingkis di wilayah Jonggol, Kabupaten Bogor, yang disebut telah meluap ke daratan.
Berdasarkan pantauan video dari akun Vk-Cafe pada Jumat (23/01/2026) sekitar pukul 14.00 WIB, aliran Sungai Cipamingkis tampak meninggi secara cepat. Arus kecokelatan mengalir deras, membawa material lumpur dan ranting, sementara permukaan air terlihat menekan tepi sungai hingga sebagian titik dilaporkan tak lagi mampu menampung debit kiriman dari hulu.
Kondisi ini memantik kekhawatiran warga di wilayah hilir. Sebab, Cipamingkis merupakan salah satu jalur air yang dapat mengalirkan “banjir kiriman” menuju kawasan padat permukiman dan industri di Kabupaten Bekasi hingga Karawang, terutama saat curah hujan di hulu meningkat bersamaan dengan kapasitas sungai yang menurun.
Aliran Menuju Bekasi dan Karawang
Luapan air yang terjadi di hulu Jonggol diperkirakan akan bergerak menelusuri aliran sungai menuju kawasan Cibarusah dan Cikarang Timur. Debit besar dari Cipamingkis ini kemudian diprediksi akan bertemu dengan aliran Sungai Cibeet, sebelum meneruskan perjalanan ke arah utara dan bermuara di kawasan Muaragembong.
Dari titik itu, aliran selanjutnya akan masuk ke sistem Sungai Citarum—jalur utama yang menjadi urat nadi sungai besar di Jawa Barat dan kerap menjadi penentu kondisi banjir di sejumlah wilayah hilir saat kiriman dari hulu datang bersamaan.
Warga di titik-titik rawan diimbau tidak menganggap situasi ini sebagai kejadian biasa. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan, kenaikan debit di hulu dapat menjadi sinyal awal banjir kiriman di kawasan hilir, terutama pada malam hingga dini hari ketika intensitas hujan sering meningkat, sementara masyarakat kerap lengah.
Warga Diminta Siaga, Pantau Perkembangan
Masyarakat di sepanjang bantaran sungai diminta memantau perkembangan debit air secara berkala, baik melalui informasi resmi pemerintah daerah, laporan kewilayahan, maupun pemantauan mandiri di titik-titik pantau terdekat. Warga juga diingatkan untuk segera mengamankan barang-barang penting, dokumen kependudukan, serta mempersiapkan kebutuhan darurat apabila air terus meningkat.
Selain itu, warga diminta menghindari aktivitas di sekitar aliran sungai saat debit tinggi, termasuk memancing atau menyeberang di titik-titik yang tidak memiliki jembatan permanen. Arus deras berpotensi menyeret siapa pun yang berada terlalu dekat dengan badan sungai, terlebih jika terjadi limpasan mendadak.
Di sisi lain, aparat desa, relawan, dan unsur kewilayahan diharapkan memperkuat kesiapsiagaan, termasuk memetakan jalur evakuasi, menyiapkan titik kumpul aman, serta memastikan komunikasi warga berjalan cepat apabila situasi berubah dalam hitungan jam.
Titik Rawan yang Perlu Diantisipasi
Sejumlah kawasan yang berada pada jalur lintasan aliran Cipamingkis menuju Cibeet hingga Citarum disebut perlu meningkatkan kesiagaan, terutama permukiman bantaran, area cekungan, serta wilayah yang memiliki riwayat luapan air saat debit kiriman meningkat. Kewaspadaan juga disarankan bagi warga sekitar akses jalan dekat sungai yang rawan tergenang, karena genangan kerap muncul lebih dulu sebelum banjir meluas.
Hingga laporan ini disusun, belum ada informasi resmi mengenai jumlah wilayah terdampak secara rinci. Namun, peningkatan debit dan potensi banjir kiriman menjadi perhatian utama mengingat jalur air dari Jonggol menuju Bekasi hingga Karawang melintasi kawasan berpenduduk padat dan area aktivitas ekonomi yang luas.
Warga diminta tetap tenang namun siaga. Jika air terus naik, langkah cepat dan disiplin terhadap peringatan dini akan menjadi kunci untuk meminimalkan risiko dan kerugian.***Abdullah




























