Bangkit dari Tremor, Harapan Baru Pasien Parkinson di Sumedang
Kesehatan    Kamis 12 Februari 2026    00:01:42 WIBSUMEDANG - Harapan baru bagi penderita Parkinson di Jawa Barat lahir dari ruang operasi RSUD Umar Wirahadikusumah Sumedang. Untuk pertama kalinya di provinsi ini, tim dokter berhasil melaksanakan operasi Stereotactic Brain Lesioning (SBL), sebuah prosedur bedah saraf presisi tinggi untuk menangani penyakit Parkinson dan gangguan gerak, Rabu (11/2/2026).
Tindakan inovatif tersebut dipimpin dokter spesialis bedah saraf, dr. Arief S. Handoko. Proses operasi dilakukan secara live dan disaksikan keluarga pasien, jajaran manajemen rumah sakit, perwakilan fasilitas kesehatan, kepala puskesmas, hingga Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang. Momentum ini menjadi tonggak penting dalam layanan kesehatan daerah.
Direktur RSUD Umar Wirahadikusumah, dr. Enceng, menyampaikan operasi berjalan lancar dengan hasil menggembirakan. Menurutnya, SBL membuka peluang baru bagi pasien Parkinson yang selama ini tidak lagi optimal tertangani dengan terapi obat.
“Ini operasi SBL pertama di Jawa Barat. Pasien yang sebelumnya sulit ditangani hanya dengan obat, kini memiliki harapan baru melalui tindakan operasi,” ujar Enceng.
Pasien yang menjalani prosedur tersebut merupakan seorang notaris lanjut usia yang telah delapan tahun berjuang melawan Parkinson. Dalam sebulan terakhir, kondisinya memburuk hingga hanya mampu terbaring dan kehilangan kemandirian. Gangguan tremor, langkah tidak seimbang, sering tersandung, hingga kaki sulit digerakkan membuat aktivitas dan pekerjaannya terganggu serius.
Teknologi Presisi Minim Sayatan
Stereotactic Brain Lesioning merupakan teknik bedah saraf dengan tingkat presisi tinggi yang menargetkan titik tertentu di otak penyebab gangguan gerak. Prosedur ini dapat menekan tremor hingga 90 persen, serta mengurangi kekakuan otot dan bradikinesia—perlambatan gerak—hingga 70–80 persen.
Dalam pelaksanaannya, pasien tetap sadar dengan bius lokal. Dokter membuat lubang kecil sekitar tiga sentimeter pada tengkorak, lalu menggunakan teknologi radiofrequency untuk menciptakan lesi terkendali pada saraf yang menjadi sumber gangguan.
Menurut Enceng, tidak semua pasien Parkinson dapat langsung menjalani operasi ini. Konsultasi dengan dokter spesialis diperlukan untuk memastikan indikasi medis terpenuhi.
Dari sisi pembiayaan, tindakan ini tergolong mahal jika ditanggung mandiri, yakni sekitar Rp74 juta. Namun pada kasus ini, seluruh biaya ditanggung BPJS Kesehatan melalui skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Dengan penjaminan BPJS, pasien tidak perlu mengeluarkan biaya. Ini penting agar akses layanan kesehatan canggih tidak hanya dinikmati kalangan tertentu,” katanya.
RSUD Sumedang juga berkomitmen membantu peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang kepesertaannya tidak aktif. Rumah sakit akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk proses pengaktifan kembali sesuai regulasi, termasuk memfasilitasi surat keterangan rawat atau berobat.
Keberhasilan operasi ini menandai langkah maju layanan kesehatan daerah dalam menghadirkan teknologi bedah saraf modern. Bagi para penderita Parkinson, capaian tersebut bukan sekadar prestasi medis, melainkan secercah harapan untuk kembali bergerak, mandiri, dan menjalani hidup dengan lebih bermakna.***Cece Ruhiyat
























