Tak Pernah Terlambat untuk Belajar: PKBM Brilliant Pangandaran Jadi Ruang Kedua Meraih Mimpi
Pendidikan    Selasa 17 Februari 2026    03:13:41 WIBPANGANDARAN -Di tengah keterbatasan akses pendidikan formal yang masih dirasakan sebagian masyarakat pedesaan, secercah harapan tumbuh dari Dusun Ciwangkal, Desa Cimindi, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Pangandaran. Di sanalah PKBM Brilliant berdiri, menjadi ruang kedua bagi warga yang sempat tertunda langkah pendidikannya.
Bagi sebagian orang, putus sekolah adalah akhir dari perjalanan belajar. Namun di PKBM Brilliant, stigma itu perlahan dipatahkan. Lembaga pendidikan non-formal ini tak sekadar memfasilitasi program kesetaraan Paket A, B, dan C, tetapi juga menanamkan keterampilan hidup (life skills) sebagai bekal nyata menghadapi tantangan zaman.
Kepala PKBM Brilliant, Rina Herlina, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa pendidikan non-formal harus mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat. Ia menyebut, PKBM bukan hanya tempat mengejar ijazah, melainkan ruang transformasi sosial.
“Di PKBM Brilliant, kami percaya tidak ada kata terlambat untuk belajar. Setiap individu memiliki potensi yang hanya perlu diasah melalui bimbingan serta lingkungan yang tepat,” ujar Rina saat ditemui di sekretariat PKBM Brilliant, Senin (16/2/2026).
Menyatukan Kurikulum dan Kebutuhan Desa
Metode pembelajaran di PKBM Brilliant dirancang adaptif. Kurikulum nasional tetap menjadi pijakan, namun diselaraskan dengan kebutuhan warga pedesaan. Selain mata pelajaran akademik, peserta didik dibekali pelatihan keterampilan seperti kewirausahaan, pengelolaan usaha kecil, hingga keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ini, menurut Rina, menjadi kunci agar lulusan tidak hanya mengantongi ijazah, tetapi juga memiliki daya saing dan kemandirian ekonomi. Atmosfer kekeluargaan yang dibangun di lingkungan belajar pun membuat warga dari berbagai usia merasa nyaman kembali duduk di bangku “sekolah”.
Di ruang-ruang sederhana itu, tampak semangat yang tak kalah dengan sekolah formal. Ada ibu rumah tangga yang ingin meningkatkan taraf hidup keluarga, remaja yang sempat terhenti sekolahnya, hingga pekerja yang ingin melengkapi kualifikasi pendidikan.
Pendidikan sebagai Jalan Kedua
Kehadiran PKBM Brilliant menjadi angin segar bagi warga Desa Cimindi dan sekitarnya. Bagi mereka yang pernah merasa tertinggal, lembaga ini membuka jalan kedua untuk kembali menata masa depan.
Rina mengajak masyarakat untuk tidak berkecil hati dengan keterbatasan masa lalu. Ia menegaskan, pendidikan adalah hak setiap warga negara tanpa batas usia.
“Batasan bukanlah penghalang untuk meraih mimpi yang lebih tinggi. Kami berkomitmen mencetak lulusan yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan nyata. Jadilah cerdas, jadilah Brilliant,” pungkasnya.
Di tengah arus modernisasi dan tuntutan kompetensi yang semakin tinggi, PKBM Brilliant membuktikan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar wacana. Dari desa kecil di Pangandaran, harapan itu terus menyala membuka pintu kesempatan bagi siapa pun yang berani melangkah kembali.***Doni Saputra
























