Teduh Ramadan di Masjid Agung Syekh Quro Karawang
Daerah    Selasa 24 Februari 2026    05:35:03 WIBKARAWANG – Ramadan menghadirkan suasana yang berbeda di Masjid Agung Syekh Quro, Karawang. Masjid bersejarah yang berdiri di Jalan Tuparev, Karawang Kulon, itu bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga ruang pulang bagi banyak orang yang mencari ketenangan.
Suhada, warga Karawang Timur, termasuk yang merasakan denyut spiritual itu. Setiap Ramadan, sepulang kerja ia memilih singgah ke masjid untuk bertadarus Al-Qur’an sambil menanti azan Magrib.
Menjelang berbuka, ia pulang untuk makan bersama keluarga. Namun langkahnya kembali lagi ke masjid selepas Isya. Salat Tarawih ia tunaikan berjamaah, lalu dilanjutkan dengan iktikaf hingga sekitar pukul 00.00 WIB.
“Saya tidak memasang target khusus. Yang penting konsisten datang dan mengisi waktu dengan membaca Al-Qur’an,” ujarnya. (23/02)
Di antara lantunan ayat suci dan zikir yang lirih, Suhada mengaku menemukan ketenangan yang sulit dijelaskan. Ia merasa bisa beribadah tanpa tergesa-gesa.
“Mungkin karena nilai sejarahnya juga. Masjid ini memang dibangun untuk menyebarkan Islam di Karawang,” katanya.
Jejak Awal Islam di Tanah Pangkal Perjuangan
Masjid Agung Syekh Quro diyakini sebagai salah satu masjid paling awal yang berdiri di Pulau Jawa. Hal itu diungkapkan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Karawang, Dharma Gagatama, berdasarkan kajian literatur sejarah serta catatan kolonial.
“Sejumlah tulisan dan penelitian sejarawan menunjukkan indikasi kuat bahwa Masjid Agung Karawang merupakan salah satu masjid paling awal yang dibangun di Pulau Jawa,” kata Dharma.
Masjid tersebut dibangun oleh Syekh Quro sekitar abad ke-14 atau kisaran tahun 1400-an. Letaknya yang berada di dekat Sungai Citarum menjadikannya strategis pada masanya, ketika sungai menjadi jalur transportasi utama sekaligus pusat aktivitas ekonomi.
Sejak awal, masjid ini bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat penyebaran Islam dan pembentukan tatanan sosial masyarakat. Kawasan di sekitarnya pun berkembang menjadi komunitas Islam yang berpengaruh di Karawang.
Pada masa kolonial, ketika pemerintah Hindia Belanda menetapkan Karawang sebagai wilayah administrasi, posisi masjid dijadikan titik acuan pembangunan pusat pemerintahan.
“Ini menunjukkan bahwa masjid memiliki posisi sentral, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga dalam perencanaan wilayah,” ujar Dharma.
Akulturasi dan Jejak Arsitektur
Secara arsitektur, masjid ini memadukan unsur Asia Selatan, Asia Tenggara, Nusantara, serta nilai-nilai Islam. Pada masa awal, bangunannya didominasi material kayu dengan bentuk menyerupai masjid-masjid kuno di Jawa.
Masjid tercatat mengalami tiga kali renovasi besar pada masa para Bupati Karawang: awal 1800-an oleh Raden Adipati Singasari Panitraningrat, kemudian tahun 1886 oleh Raden Adipati Arya Sastradiningrat, dan dilanjutkan oleh Raden Adipati Arya Suryadiningrat.
Dahulu, atapnya berbentuk tumpang (tajug) bertingkat tiga, melambangkan Iman, Islam, dan Ihsan. Kini, sejumlah elemen asli seperti struktur kayu penyangga dan bentuk atap tumpang tersebut sudah tidak lagi terlihat.
“Ke depan, penting adanya upaya pelestarian berbasis kajian sejarah agar nilai-nilai asli masjid ini tidak hilang,” tutur Dharma.
Di tengah modernisasi dan perubahan zaman, Masjid Agung Syekh Quro tetap berdiri sebagai penanda sejarah dan ruang spiritual warga. Di bulan Ramadan, ia bukan hanya menjadi saksi ibadah, tetapi juga tempat banyak hati menemukan jeda dan kembali.***Red Emn


























