Lebaran Bekasi, Ikhtiar Menjaga Identitas di Tengah Arus Multikultur
Pemerintahan    Minggu 05 April 2026    10:30:43 WIBTAMBUN UTARA - Di tengah derasnya arus urbanisasi dan keberagaman budaya, Pemerintah Kabupaten Bekasi menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga akar tradisi lokal. Hal itu tercermin dalam gelaran Lebaran Bekasi ke-8 yang berlangsung di Saung Jajaka, Kampung Gabus, Desa Srijaya, Sabtu (4/4/2026).
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, dr. Asep Surya Atmaja, menilai bahwa kekayaan budaya daerah tidak boleh tergerus oleh dinamika zaman, meski Bekasi kini menjelma sebagai wilayah multikultural dengan jutaan penduduk dari berbagai latar belakang.
“Bekasi ini dihuni masyarakat dari puluhan negara. Tapi identitas budaya kita harus tetap hidup. Lebaran Bekasi adalah salah satu warisan yang harus dijaga,” ujar Asep.
Ia menekankan pentingnya merawat tradisi seperti nyorog—sebuah praktik silaturahmi kepada orang tua dan sesepuh—sebagai nilai luhur yang tidak lekang oleh waktu. Tradisi ini, menurutnya, bukan sekadar seremoni, melainkan perekat sosial yang memperkuat hubungan antargenerasi.
Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kabupaten Bekasi berencana mengalokasikan anggaran rutin untuk mendukung keberlanjutan kegiatan tersebut. Upaya ini diharapkan mampu menjaga eksistensi budaya lokal di tengah perubahan sosial yang cepat.
“Ini bukan sekadar acara tahunan, tapi bagian dari identitas. Ke depan akan kita dukung secara anggaran agar terus berlangsung,” tegasnya.
Di sisi lain, Asep juga menyinggung sejumlah agenda pembenahan pemerintahan yang tengah berjalan, mulai dari perbaikan sistem perizinan hingga peningkatan transparansi keuangan daerah. Ia menekankan bahwa pembangunan daerah membutuhkan kerja bersama, bukan sekadar peran individu.
“Saya bukan superman. Kita harus menjadi super team. Kolaborasi adalah kunci,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Lebaran Bekasi, Damin Sada, mengungkapkan bahwa kegiatan ini lahir dari keprihatinan atas mulai memudarnya budaya lokal di tengah masyarakat.
“Lebaran Bekasi menjadi ruang untuk merawat silaturahmi dan menghidupkan kembali tradisi. Ini bukan hanya soal budaya, tapi juga identitas,” ujarnya.
Menurut Damin, interaksi langsung dalam tradisi seperti ini memiliki nilai yang tidak tergantikan oleh kemajuan teknologi. Ia khawatir, tanpa upaya nyata, generasi mendatang akan kehilangan akar budayanya.
“Kalau budaya hilang, kita kehilangan jati diri. Itu yang harus kita cegah bersama,” ucapnya.
Ia pun menyambut positif rencana pemerintah daerah yang akan memberikan dukungan anggaran secara berkelanjutan. Baginya, langkah tersebut menjadi harapan baru bagi pelestarian budaya Bekasi.
Lebih jauh, Damin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga persatuan di tengah berbagai tantangan yang ada. Ia menilai, momentum seperti Lebaran Bekasi mampu mempererat hubungan antara masyarakat dan pemimpin.
“Silaturahmi ini yang menguatkan kita. Dari sini, kebersamaan itu tumbuh,” tutupnya.***Samsudin




























