Dari Subang ke Dunia: Langkah Sunyi Firoos Menggapai Mimpi Besar
Pendidikan    Jumat 17 April 2026    23:12:07 WIBSUBANG - Di tengah keseharian remaja seusianya, nama Firoos Ghathfaan Ramadhan tiba-tiba mencuat. Siswa kelas 8 SMPIT Alamy Subang itu tak sekadar berprestasi di bangku sekolah. Di usia 14 tahun, ia menorehkan capaian yang bahkan sulit diraih banyak orang dewasa: mendapatkan surat apresiasi resmi dari NASA setelah menemukan celah keamanan (vulnerability) dalam sistem lembaga tersebut.
Pencapaian itu bukan datang secara instan. Di baliknya, ada ketekunan, rasa ingin tahu, dan disiplin yang ia bangun sejak dini. Namun bagi Firoos, pengakuan dari lembaga antariksa Amerika Serikat itu bukanlah garis akhir. Justru sebaliknya, ia melihatnya sebagai pijakan awal untuk melompat lebih jauh.
“Aku lagi ngincar Asian Scholarship buat ke Singapura SMA-nya,” ujarnya singkat namun penuh keyakinan. (17/04)
Ambisi itu bukan tanpa arah. Firoos secara sadar membangun portofolio di bidang keamanan siber sebuah bidang yang kini menjadi kebutuhan global. Selain pengakuan dari NASA, ia juga telah terlibat dalam riset keamanan di sejumlah institusi internasional seperti University of San Diego dan Avans Hogeschool. Modal ini membuka peluang lebih luas untuk menembus beasiswa bergengsi di tingkat Asia.
Meski memiliki kemampuan teknis di atas rata-rata, Firoos menepis anggapan bahwa prestasi semata soal bakat. Ia justru menekankan pentingnya konsistensi dalam proses.
Baginya, fokus pada satu bidang secara berkelanjutan jauh lebih penting daripada mencoba banyak hal tanpa arah. Ia juga mengingatkan remaja seusianya untuk lebih bijak dalam menggunakan waktu, termasuk mengurangi penggunaan gawai untuk hal-hal yang kurang produktif. Tak kalah penting, menjaga pola tidur tetap teratur agar kondisi fisik dan mental tetap prima.
Di luar capaian akademik, Firoos menyuarakan pandangan yang jarang muncul dari remaja seusianya. Ia menyoroti pentingnya pendekatan personal dalam dunia pendidikan, terutama bagi siswa yang kerap dianggap “berbeda”.
Menurutnya, siswa yang cenderung pendiam atau sulit membaur justru membutuhkan perhatian lebih agar potensi mereka tidak terabaikan. Kedekatan antara guru dan murid, kata dia, bisa menjadi kunci terciptanya proses belajar yang lebih efektif.
Kisah Firoos menjadi potret bahwa ruang kelas di daerah bukanlah batas bagi mimpi besar. Dari Subang, seorang remaja membuktikan bahwa ketekunan dan arah yang jelas dapat membawa langkah kecil menuju panggung dunia.***Red Ahas




























