Asmaul Husna Menggema di Pesantren As-Syifa, Merajut Persaudaraan dan Meneguhkan Cinta kepada Rasulullah
Daerah    Minggu 06 September 2026    22:12:36 WIBSUMEDANG - Lantunan Asmaul Husna mengalun khidmat dari pelataran Pondok Pesantren Islam Internasional Terpadu Asy-Syifaa Wal Mahmuudiyyah, Desa Haurgombong, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Minggu (6/9/2026).
Ratusan jemaah dari berbagai wilayah berkumpul dalam suasana penuh kekhidmatan untuk mengikuti Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW sekaligus doa bersama memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia.
Yang membuat suasana semakin istimewa, kegiatan tersebut tidak hanya dihadiri kalangan pesantren dan masyarakat. Sejumlah elemen turut larut dalam kebersamaan, mulai dari jajaran Brimob, Polres Sumedang, Kodim 0610, Basarnas, Kementerian Agama, hingga mahasiswa UPI dan UNSAP.
Di tengah lantunan Asmaul Husna, keberagaman latar belakang itu seolah melebur menjadi satu. Tidak ada sekat institusi maupun profesi. Semua hadir dalam semangat yang sama: memperkuat persaudaraan, menjaga persatuan, sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengatakan, peringatan Maulid Nabi hendaknya tidak berhenti pada seremoni keagamaan. Lebih dari itu, momentum tersebut harus menjadi ruang untuk memperdalam kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus meningkatkan ketakwaan.
“Memperingati Maulid Nabi diharapkan kecintaan kepada Rasulullah semakin mendalam, ketakwaan meningkat, serta tercipta kolaborasi yang makin kokoh demi mewujudkan Sumedang yang agamis, maju, dan sejahtera,” ujar Dony.
Menurutnya, mencintai Rasulullah SAW bukan sekadar mengucapkan shalawat atau mengenang perjalanan hidup beliau. Kecintaan tersebut harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Dony mengajak umat Islam menjadikan akhlak Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan. Kejujuran, kasih sayang, menjaga amanah, serta kemauan merajut persaudaraan, kata dia, merupakan bentuk nyata dari kecintaan kepada Nabi.
“Cinta kepada Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan ucapan. Harus dibuktikan dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Pesan itu menjadi relevan di tengah kehidupan masyarakat yang terus bergerak dan menghadapi berbagai tantangan. Menurut Dony, semangat keteladanan Rasulullah dapat menjadi kekuatan moral untuk membangun kehidupan sosial yang lebih harmonis.
Kehadiran berbagai unsur masyarakat dan instansi dalam kegiatan tersebut juga menunjukkan bahwa nilai keagamaan dapat menjadi titik temu untuk memperkuat kolaborasi.
Dari lingkungan pesantren, aparat keamanan, lembaga pemerintah, hingga kalangan mahasiswa, seluruhnya hadir dalam satu ruang kebersamaan.
Dari Sumedang, lantunan Asmaul Husna itu pun menjadi pengingat bahwa persatuan tidak hanya dibangun melalui slogan. Ia tumbuh dari kebersamaan, keteladanan, dan kesediaan untuk saling menjaga.
Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW akhirnya bukan hanya menjadi peringatan atas kelahiran manusia agung yang menjadi teladan umat Islam, tetapi juga menjadi ajakan untuk menghadirkan nilai-nilai keteladanan Rasulullah dalam kehidupan nyata demi Sumedang yang semakin agamis, maju, dan sejahtera.***Red-Cece Ruhiyat























