Menikmati Maranggi di Tepi Cibeet: Rasa Tradisi yang Dirawat Alam Cikarang Timur
Daerah    Sabtu 17 Januari 2026    22:19:29 WIBCIKARANG TIMUR — Di tengah geliat kawasan industri Kabupaten Bekasi, terselip sebuah sudut tenang yang menyuguhkan cita rasa khas Jawa Barat sekaligus panorama alam yang menyejukkan. Di sanalah Sate Maranggi Mbah Goen hadir, menawarkan pengalaman kuliner yang bukan sekadar soal rasa, tetapi juga tentang tradisi, kebersamaan, dan kedekatan dengan alam.
Berlokasi di Kampung Ciranggon, Desa Cipayung, Kecamatan Cikarang Timur, tepat di pinggiran Sungai Cibeet, Sate Maranggi Mbah Goen menjadi magnet baru bagi para pecinta kuliner tradisional. Tempat makan ini berada di kawasan wisata Kawung Tilu Bojong Rangkas, dikelilingi hamparan perkebunan pohon jati yang luas dan suasana pedesaan yang asri.
Dari balik tungku pembakaran, aroma sate maranggi yang sedang dipanggang perlahan menyebar, menggoda siapa pun yang datang. Potongan daging yang dibakar dengan teknik sederhana namun penuh ketelatenan itu menyimpan kekuatan utama: bumbu khas yang meresap hingga ke serat daging. Disajikan dengan bumbu kacang, kecap manis, serta sambal pedas, sate maranggi di sini menghadirkan perpaduan rasa gurih, manis, dan pedas yang seimbang.
Pemilik usaha, Goen, menuturkan bahwa nama Sate Maranggi Mbah Goen diambil dari identitas keluarga dan resep turun-temurun yang tetap dijaga hingga kini. Bagi Goen, menjaga rasa berarti menjaga warisan.
“Kami ingin pengunjung merasakan sate maranggi dengan cita rasa asli, bumbu yang benar-benar meresap, dan suasana alam yang nyaman. Harapannya, orang bisa makan dengan tenang, berkumpul bersama keluarga, dan menikmati kebersamaan,” ujar Goen, Sabtu (17/1/2026).
Konsep lesehan menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung dapat menikmati hidangan sambil duduk santai di tengah alam terbuka, dengan semilir angin dan gemericik aliran Sungai Cibeet sebagai latar alami. Tak heran jika tempat ini kerap dipilih keluarga, komunitas, hingga pasangan yang ingin bersantai jauh dari hiruk pikuk kota.
Tak hanya sate maranggi, Mbah Goen juga menyajikan menu pendamping seperti sop iga yang hangat serta beragam pepes ikan dengan bumbu tradisional. Ragam menu ini semakin melengkapi pengalaman kuliner khas Sunda yang sederhana namun kaya rasa.
Soal harga, Sate Maranggi Mbah Goen tergolong ramah di kantong. Sate maranggi dibanderol Rp3.000 per tusuk, atau Rp4.000 per tusuk untuk pilihan full daging. Paket 10 tusuk sate bisa dinikmati dengan harga Rp30.000, sementara nasi putih disajikan seharga Rp5.000 per porsi.
Sate Maranggi Mbah Goen buka setiap Selasa hingga Minggu, mulai pukul 10.00 WIB hingga 19.30 WIB. Dengan perpaduan rasa yang terjaga, harga terjangkau, dan suasana alam yang menenangkan, tempat ini menjadi destinasi kuliner yang layak disinggahi bagi warga Bekasi dan sekitarnya—sebuah ruang sederhana untuk menikmati tradisi, rasa, dan waktu bersama orang-orang terdekat.***Samsudin




























