Sawah Terendam, Harapan Petani Karawang Diuji Banjir dan Rob
Peristiwa    Selasa 20 Januari 2026    13:31:26 WIBKarawang -Hujan lebat yang mengguyur wilayah pesisir dan dataran rendah Kabupaten Karawang selama sepekan terakhir meninggalkan dampak serius bagi sektor pertanian. Banjir dan limpasan air laut (rob) merendam ribuan hektare lahan persawahan, mengancam hasil panen sekaligus mata pencaharian petani.
Data sementara Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Karawang mencatat, hingga Senin (19/1/2026), sedikitnya 1.948 hektare lahan pertanian terdampak banjir dan rob. Areal tersebut tersebar di tujuh kecamatan, yakni Cibuaya, Pedes, Tirtajaya, Pakisjaya, Telukjambe Timur, Telukjambe Barat, dan Cilamaya Wetan.
Kepala Bidang Sarana Pertanian DPKPP Karawang, Mahmud, mengatakan genangan air merata di sejumlah sentra produksi padi. Kecamatan Cibuaya menjadi wilayah terdampak paling luas, dengan banjir merendam empat desa dan mencapai sekitar 1.271 hektare. Disusul Kecamatan Pakisjaya yang mencatat 253 hektare di lima desa, serta Kecamatan Tirtajaya dengan 203 hektare di Desa Bolang.
Sementara itu, di Kecamatan Pedes, banjir merendam sekitar 65 hektare di dua desa. Adapun di Kecamatan Telukjambe Timur dan Telukjambe Barat, genangan air terjadi di enam desa dengan total luas sekitar 51 hektare. Di Kecamatan Cilamaya Wetan, dua desa terdampak dengan luas mencapai 105 hektare.
“Berdasarkan laporan hingga 19 Januari 2026, total lahan pertanian yang terdampak banjir dan rob mencapai 1.948 hektare,” ujar Mahmud, Senin.
Dari luasan tersebut, mayoritas merupakan tanaman padi yang sudah memasuki fase Hari Setelah Tanam (HST) seluas 1.928 hektare, sedangkan sekitar 20 hektare masih berada pada fase Hari Setelah Semai (HSS). Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran petani, mengingat sebagian tanaman terancam gagal panen jika genangan air tidak segera surut.
Mahmud menjelaskan, data tersebut dihimpun dari laporan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengelolaan Pertanian di masing-masing kecamatan, penyuluh pertanian lapangan, serta Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Provinsi Jawa Barat.
Saat ini, DPKPP Karawang terus melakukan pendataan lanjutan untuk memastikan tingkat kerusakan tanaman. Pemerintah daerah juga mulai menyiapkan langkah penanganan, termasuk koordinasi terkait potensi bantuan dan klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) bagi petani yang terdampak.
“Data ini masih bersifat dinamis. Jika intensitas hujan masih tinggi, tidak menutup kemungkinan jumlah lahan terdampak akan bertambah,” kata Mahmud.
Di tengah genangan yang belum sepenuhnya surut, para petani Karawang kini hanya bisa berharap cuaca segera membaik, agar sawah yang menjadi tumpuan hidup mereka dapat kembali diselamatkan.***Red Emn




























