Bertahan di Tengah Genangan, Warga Karang Asih Menanti Bantuan yang Merata
Daerah    Jumat 23 Januari 2026    19:58:07 WIBCIKARANG UTARA - Banjir masih merendam pemukiman warga di Kampung Cabang Kebun Kelapa, Dusun 3, Desa Karang Asih, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jumat (23/01/2026). Di titik terendah, ketinggian air dilaporkan mencapai hingga satu meter. Kondisi itu memaksa sebagian warga memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman, sementara sebagian lainnya bertahan di rumah dengan segala keterbatasan.
Genangan yang belum surut membuat aktivitas warga lumpuh. Akses keluar-masuk kampung tersendat, perabotan rumah tangga terancam rusak, dan kebutuhan dasar menjadi persoalan harian. Di sela kepanikan dan upaya menyelamatkan barang-barang yang tersisa, muncul keluhan lain yang tak kalah menyakitkan: bantuan disebut belum diterima secara merata.
Wahyudin, salah seorang warga terdampak, mengaku melihat ada warga yang sudah memperoleh bantuan sembako. Namun, ia menilai masih banyak keluarga yang belum tersentuh bantuan, terutama mereka yang memilih bertahan di rumah karena alasan keamanan, menjaga harta benda, atau tidak memiliki tempat mengungsi.
“Ada yang sudah dapat sembako, tapi kami yang bertahan di rumah sampai sekarang belum dapat bantuan apa pun,” keluh Wahyudin, Jumat (23/01) pagi.
Keluhan serupa terdengar dari warga lainnya. Bagi mereka, bertahan bukan berarti tidak membutuhkan pertolongan. Justru di tengah keterbatasan gerak, kebutuhan makan, air bersih, hingga obat-obatan menjadi semakin mendesak. Apalagi, banjir setinggi itu berisiko memicu penyakit kulit, diare, hingga demam, terutama pada anak-anak dan lansia.
Di tengah situasi sulit, warga berupaya bertahan dengan cara mereka sendiri. Salah satunya dilakukan Iwan, warga setempat, yang memanfaatkan genangan banjir untuk memancing ikan sebagai lauk makan sehari-hari. Ia mengaku memilih menunggu banjir surut sembari mencari tambahan makanan untuk keluarga.
“Dari pagi mancing sambil nunggu banjir surut. Buat lauk makan, soalnya belum ada bantuan. Baru dapat empat ikan lele,” ujar Iwan.
Pemandangan seperti ini menggambarkan keteguhan warga sekaligus keterbatasan yang mereka hadapi. Di satu sisi, warga berusaha mandiri. Di sisi lain, kondisi banjir yang belum terkendali membuat kebutuhan bantuan darurat tetap menjadi hal yang tak bisa ditunda.
Warga berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait segera memperkuat pendataan dan distribusi bantuan agar tidak timpang. Mereka juga meminta ada perhatian khusus bagi keluarga yang bertahan di rumah—baik melalui pengantaran langsung, posko keliling, maupun penguatan jalur distribusi di titik-titik yang masih tergenang.
Selain bantuan logistik, warga menaruh harapan besar pada langkah penanganan banjir yang lebih serius dan terukur. Mulai dari percepatan penanganan genangan, pembukaan akses evakuasi, hingga evaluasi penyebab banjir di lingkungan mereka agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim hujan.
Di Kampung Cabang Kebun Kelapa, warga kini hanya punya satu harapan yang sama: air segera surut, bantuan hadir tanpa pilih-pilih, dan mereka bisa kembali menjalani hidup normal tanpa harus bertaruh dengan rasa lapar di tengah genangan.***Sam




























