Asap Bara, Rasa Kenangan: Kisah Sate Yayu RIS yang Setia Menjaga Pagi Pangandaran
Daerah    Senin 26 Januari 2026    02:14:02 WIBPANGANDARAN -Pagi di Pasar Pananjung selalu dimulai dengan aroma yang sama: asap bara tipis, wangi arang, dan sate ayam kampung yang perlahan matang di atas panggangan. Di tengah hiruk-pikuk pedagang dan suara tawar-menawar, ada satu lapak yang nyaris tak pernah sepi Sate Ayam Kampung Yayu RIS.
Lapak sederhana itu bukan sekadar tempat sarapan. Ia adalah ruang kecil tempat kenangan dan rasa bertemu. Warga lokal, wisatawan, hingga pelanggan setia yang datang bertahun-tahun, kerap menyempatkan diri duduk sejenak, menikmati sate, dan mengulang cerita pagi yang sama: rasa yang tak berubah, suasana yang selalu akrab.
Tusuk demi tusuk sate dibakar perlahan. Daging ayam kampungnya kecokelatan, bumbu meresap hingga ke serat terdalam. Racikan marinasi khas menjadi rahasia yang menjaga kekuatan rasa gurih, hangat, dan membekas di lidah. Sekali gigitan, sulit berhenti. Itulah sebabnya, lapak ini hampir tak pernah kehilangan pembeli.
Kini, usaha Sate Yayu RIS dikelola oleh sang anak, Ibu Endang. Ia melanjutkan tradisi ibunya, Yayu, yang kini lebih banyak membantu di rumah. “Sekarang saya yang jualan, dibantu satu pegawai,” kata Endang saat ditemui di sela melayani pembeli, Minggu (25/1/2026).
Satu porsi sate disajikan lengkap dengan nasi hangat dan kuah opor lembut, dibanderol Rp30 ribu. Harga yang bagi banyak orang sepadan dengan kepuasan rasa dan kenyang yang dibawa pulang. Kombinasi sate dan kuah opor menjadi teman setia memulai hari entah sebelum ke pantai atau sekadar berkeliling pasar.
Dalam sehari, ratusan tusuk sate habis terjual. Saat akhir pekan atau musim liburan, jumlahnya bisa menembus 500 tusuk. Angka itu bukan sekadar statistik penjualan, melainkan cermin dari konsistensi rasa yang dijaga dari generasi ke generasi.
Di tengah geliat wisata Pangandaran dan menjamurnya kuliner kekinian, Sate Yayu RIS tetap berdiri dengan kesederhanaannya. Tanpa papan besar, tanpa promosi berlebihan. Hanya asap bara, resep lama yang setia, dan pelanggan yang terus kembali. Dari sudut kecil Pasar Pananjung, sebuah kuliner legendaris menulis kisah panjangnya sendiri—tentang rasa, keluarga, dan pagi yang selalu punya aroma khas.***Doni Saputra




























