Lapak Ada, Pembeli Tiada: Pedagang Bomero Bertahan di Tengah Sepinya Relokasi
Ekonomi    Senin 26 Januari 2026    23:50:54 WIBCIANJUR – Harapan ratusan pedagang Pasar Bojong Meron (Bomero) untuk kembali berjualan secara layak usai relokasi tampaknya belum sepenuhnya terwujud. Lapak-lapak yang disediakan Pemerintah Kabupaten Cianjur di Pasar Induk Pasir Hayam justru terpantau sepi, nyaris tanpa aktivitas jual beli. Deretan petak yang telah diberi garis dan nomor itu tampak kosong melompong, Senin (26/1/2026).
Ketua K5 Pasar Induk Pasir Hayam, H. Ujang, menilai minimnya pedagang yang bertahan bukan semata persoalan keengganan, melainkan absennya strategi pemerintah dalam mengalihkan arus pembeli ke lokasi baru. Menurutnya, relokasi pasar seharusnya tidak berhenti pada pemindahan pedagang semata, tetapi juga memastikan ekosistem perdagangan tetap hidup.
“Jangan hanya pedagangnya yang dipindahkan, pembelinya juga harus dipindahkan. Kalau pedagang sudah di sini tapi pembeli tidak ada, mereka mau berjualan ke siapa,” ujar H. Ujang.
Berdasarkan data dinas terkait, sebanyak 213 pedagang Pasar Bomero seharusnya direlokasi ke Pasar Induk Pasir Hayam. Pengelola bahkan telah menyiapkan 222 lapak untuk menampung mereka. Namun realitas di lapangan jauh dari harapan. Dari puluhan pedagang yang sempat mencoba bertahan, kini hanya tersisa satu orang yang masih membuka lapak.
“Pedagang itu modalnya pas-pasan. Kalau sehari tidak ada pembeli, mereka rugi. Daripada barang tidak laku dan modal habis, mereka memilih berhenti dan uangnya dipakai untuk kebutuhan keluarga,” katanya.
Alih-alih menempati lapak relokasi, sebagian besar pedagang Bomero memilih berpindah ke kios atau rumah kontrakan di sekitar wilayah lama. Fenomena ini, menurut H. Ujang, justru memunculkan persoalan baru yang perlu mendapat perhatian serius pemerintah daerah, terutama menyangkut perizinan dan tata ruang usaha.
“Pasar memang dikosongkan, tapi pedagang malah bergeser ke dalam, ke rumah-rumah atau kios. Ini harus dikaji ulang, apakah tempat-tempat itu memang diperuntukkan untuk berdagang atau tidak,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi pedagang baru di Pasar Induk. Selama lebih dari satu dekade, pasar tersebut telah dihuni pedagang lama dengan pelanggan tetap. Sementara pedagang Bomero yang datang belakangan harus memulai dari nol, tanpa kepastian pembeli.
“Pedagang lama sudah punya langganan. Pedagang baru datang, pembelinya dari mana kalau tidak membawa pembeli dari tempat asalnya,” jelasnya.
H. Ujang berharap pemerintah daerah bersikap lebih tegas dan konsisten dalam penataan pasar. Ia mengingatkan bahwa saat pemindahan Pasar Induk pada 2016 lalu, pemerintah berjanji hanya akan ada satu titik pusat perdagangan, tanpa aktivitas jual beli di lokasi lama.
“Harapan kami lapak-lapak kosong ini bisa terisi. Kalau semua pedagang dikonsentrasikan di satu titik dan pemerintah konsisten, pembeli juga akan datang. Kami ingin berjuang dan berdagang bersama-sama, mencari nafkah bersama,” pungkasnya.***Dede Ruhyana




























