Manggis Subang Tembus China, Asa Petani Desa Menguat Lewat Koperasi
Daerah    Sabtu 28 Februari 2026    04:42:14 WIBSUBANG - Di kaki perbukitan Desa Bunihayu, Kamis (26/2/2026), senyum para petani merekah saat tiga ton manggis segar diberangkatkan menuju pasar China. Bukan sekadar seremoni pelepasan ekspor, momen itu menjadi penegas bahwa desa mampu berdiri tegak di panggung perdagangan global.
Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi, bersama Menteri Koperasi RI, Ferry Juliantono, secara simbolis melepas ekspor yang dikelola Koperasi Produsen Upland Subang Farm. Sejak pengiriman perdana, koperasi ini telah membukukan nilai transaksi ekspor mencapai Rp6,6 miliar—angka yang tak kecil bagi gerak ekonomi desa.
Bagi Ferry, keberhasilan ini adalah bukti nyata bahwa koperasi bukan sekadar romantisme sejarah. “Ini simbol perjuangan ekonomi rakyat. Koperasi mampu menangani proses dari hulu ke hilir, mulai pengemasan, grading, hingga pengolahan,” ujarnya. Ia menegaskan, penguatan koperasi desa merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa, Soekarno dan Mohammad Hatta, yang menempatkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian.
Tak berhenti pada manggis, pemerintah pusat mendorong Subang memperluas rantai nilai komoditas lain. Ekspor nanas menjadi target berikutnya. Bahkan untuk kopi, Ferry berharap Subang mampu memproduksi karung kemasan sendiri agar tak lagi bergantung pada impor dari Bangladesh.
Agus Masykur menyambut optimisme itu. Ia berharap ekspor manggis ke China bukan sekadar pencapaian simbolik, melainkan awal dari keberlanjutan. “Hari ini kita buktikan, manggis asli Subang mampu menembus pasar China. Semoga volumenya terus meningkat setiap tahun,” katanya.
Di balik capaian tersebut, manajemen profesional menjadi kunci. Manager koperasi, Dadang Firmansyah, menjelaskan keberhasilan ini ditopang kemitraan strategis dengan PT Super Raja Bali sebagai offtaker yang memastikan standar mutu terpenuhi.
Data Januari–Februari 2026 menunjukkan geliat ekspor manggis Subang kian signifikan. Koperasi Gincu Garuda Suci mencatat 27,5 ton, disusul Koperasi Produsen Upland Subang Farm sebanyak 22,5 ton, Koperasi Gerang Agri Farm 15 ton, Koperasi Midang Jaya Farm 9,5 ton, Koperasi Curugrendeng Farm 4,8 ton, serta Koperasi Jaya Mandiri Makmur 3,5 ton.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada kerja keras petani, proses sortasi yang teliti, hingga perjalanan panjang dari kebun menuju pelabuhan. Ekspor manggis ini menandai babak baru: ketika desa tak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi pemain aktif dalam rantai perdagangan dunia.
Di Bunihayu, truk pengangkut manggis pun melaju perlahan. Bersamanya, ikut melaju harapan petani Subang bahwa buah dari tanah mereka kini dikenal, dinikmati, dan dihargai hingga mancanegara.***Red Ahas
























